Hukum

Gubernur Banten Dan Adiknya Terindikasi Lakukan Pencucian Uang

JAKARTA-SBN.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan indikasi dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dilakukan Gubernur Provinsi Banten, Ratu Atut Chosiyah dan adik kandungnya, Tubagus Chaery Wardana alias Wawan yang juga merupakan suami Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Airin Rachmi Diany.

Menurut Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto indikasi tersebut menguat setelah dilakukan gelar perkara (ekspose) antara penyidik dengan pimpinan KPK. “Putusan ekspose disetujui karena ada indikasi terjadi pelanggaran TPPU yang sangat sistematis,” ungkap Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, Jumat (10/1/2014).

Meski demikian, dia mengatakan hingga saat ini belum menerbitkan surat perintah penyidikan (sprindik). Sebab, menurut dia, ekspose internal penyidikan bukan untuk menerbitkan sprindik.

Bambang Widjojanto hanya mengatakan hingga saat ini pihaknya terus menelusuri aset-aset Ratu Atut Chosiyah dan Wawan yang diduga terkait pencucian uang yang dilakukan keduanya. “Sedang menelusuri,” kata dia.

Diduga indikasi TPPU itu terkait kasus dugaan korupsi pengadaan sarana dan prasarana alat kesehatan (alkes) dan pengadaan lainnya di lingkungan Pemprov Banten tahun anggaran 2011-2013 yang menjerat keduanya sebagai tersangka.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggandeng Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri transaksi Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah.

Juru Bicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo juga telah menyatakan bahwa pihaknya tengah melacak aset-aset Ratu Atut Chosiyah dan Wawan yang diduga berasal dari kasus dugaan korupsi. Dalam proses itu, lanjut Johan Budi SP., KPK telah menggandeng Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK).

Menurut Juru bicara KPK, Johan Budi SP., hal itu dilakukan guna melacak aset-aset Ratu Atut Chosiyah yang diduga berasal dari korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) Banten. "KPK sedang melakukan aset tracing. KPK sudah mengirimkaan surat ke PPATK untuk menelusuri transaksi mencurigakan RAC dan TCW terkait alkes Banten," ungkap Johan Budi SP. di kantornya, plaza Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/1/2014).

Sebelumnya, Juru Bicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo menyebutkan anggaran proyek alkes Banten tahun 2012, Rp 9.313.685.000.

Status tersangka buat Gubernur provinsi Banten Ratu Atut Chosiyah bertambah satu lagi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara resmi menjaring Ratu Atut Chosiyah dan adik kandungnya, Tubagus Chaery Wardana alias Wawan, sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) di Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

Ratu Atut Chosiyah dan Wawan telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan sarana dan prasarana alat kesehatan (alkes) dan pengadaan lainnya di lingkungan Pemprov Banten tahun anggaran 2011-2013.

Dalam kasus ini, Ratu Atut Chosiyah diduga telah mengatur pemenangan tender dan menerima fee dari PT. Bali Pasific Pragama (BPP), perusahaan pemenang tender alkes Banten. Menurut bukti awal yang ditemukan penyidik KPK, Ratu Atut Chosiyah berperan mengatur PT. Bali Pasific Pragama milik Wawan sebagai pemenangan tender. Atas jasanya Ratu Atut Chosiyah mendapat aliran dana sebagai fee dari Wawan.

Sementara itu, adiknya, Tubagus Chaery Wardana alias Wawan selaku pemilik PT. Bali Pasific Pragama,  perusahaan pemenang tender proyek alkes diduga melakukan penggelembungan dana (mark up) anggaran proyek tersebut.

“Setelah melakukan penyelidikan mendalam, penyidik menemukan dua alat bukti yang cukup dan menetapkan RAC (Ratu Atut Chosiyah) selaku Gubernur Banten dan TCW (Tubagus Chaery Wardana) selaku Komisaris Utama PT. BPP (Bali Pasific Pragama) sebagai tersangka," papar Juru Bicara KPK, Johan Budi SP. di  Jakarta, Selasa (7/1/2013).

Penetapan tersangka itu juga merupakan hasil gelar perkara atau ekspose satgas bersama pimpinan KPK beberapa waktu lalu. "Penetapan sejak  6 Januari 2014," tegas Johan Budi SP.

Tubagus Chaery Wardana alias Wawan sebelumnya telah menjadi tersangka dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) di Rumah Sakit Umum Kota Tangerang Selatan dan dugaan suap penanganan sengketa Pemilukada Kabupaten Lebak, Banten di Mahkamah Konstitusi. Ratu Atut Chosiyah  juga menjadi tersangka dugaan suap terhadap Akil Mochtar, saat menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Selain ditetapkan jadi sebagai tersangka korupsi alkes Banten tersebut, KPK juga menetapkan Ratu Atut Chosiyah dan adiknya, Tubagus Chaery Wardana alias Wawan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait sengketa pemilihan kepala daerah (pemilukada) di Kabupaten Lebak, Banten.

Selain jadi tersangka kasus proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) di Dinas Kesehatan Provinsi Banten, gugatan praperadilan Tubagus Chaery Wardana alias Wawan, terhadap KPK ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Wawan mengajukan keberatan terhadap penyitaan barang, penangkapan, dan penahanan dirinya.

Hakim Puji Tri Rahardi  menyatakan tindakan penyitaan yang dilakukan KPK adalah sah secara hukum. Penyitaan tersebut tercantum dalam Berita Acara Penyitaan tanggal 7 Oktober 2013 dan 8 Oktober 2013.  Begitu juga penangkapan dan penahanan terhadap  Tubagus Chaery Wardana alias Wawan, dinyatakan sah.

Penasihat hukum Tubagus Chaery Wardana alias Wawan menyayangkan putusan hakim meski tetap menghormatinya. Penasihat hukum Wawan berkeberatan Wawan disebut  terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT). Penyitaan barang-barang Wawan juga dipermasalahkan.

"Tentang penyitaan, tidak dipertimbangkan juga tanpa dirinci. Barang-barang diambil begitu saja kemudian baru diverifikasi beberapa hari kemudian. Mas Wawan juga tidak tahu barang-barang apa saja yang diambil KPK," pungkas Pia Akbar Nasution, penasihat hukum Wawan, Selasa (7/1/2014).

Atas perbuatannya, keduanya, Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaery Wardana dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Keduanya disangkakan menyuap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar sebesar Rp 1 miliar. (ant)

See Also

Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.589 Since: 05.03.13 | 0.1456 sec