Hukum

Halaman Kedua Anas Urbaningrum

Saturday, 11 Januari 2014 | View : 810

JAKARTA-SBN.
Penahanan mantan Ketua Umum Partai Demokrat dan mantan Ketua Umum PB HMI yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Anas Urbaningrum oleh KPK pada Jumat “Keramat” bisa saja menandai dimulainya halaman kedua kasus Anas Urbaningrum.

Setelah dua kali menolak untuk diperiksa KPK, sehingga KPK menyatakan akan menjemput paksa Anas Urbaningrum bersama Brigade Mobil Kepolisian Negara Republik Indonesia (Brimob Polri) bila Anas Urbaningrum kembali mangkir, Anas Urbaningrum akhirnya memenuhi panggilan pemeriksaan pada Jumat (10/1/2014). "Saya tidak mangkir, tapi sesuai saran tim penasihat hukum yang memberikan saran bahwa surat panggilannya itu harus ditanyakan apa maksudnya. Saya juga bingung secara pribadi apa yang dimaksud dan atau proyek-proyek lainnya bukan hanya untuk kepentingan saya tapi juga terkait dengan kepentingan para penasihat hukum saat mendampingi agar jelas apa sangkaan kepada saya," terang Anas Urbaningrum dalam pernyataan pers di rumahnya di Duren Sawit sebelum datang ke KPK.

Tim penasihat hukum dan loyalis Anas memang memprotes isi sprindik Anas Urbaningrum, yaitu sangkaan penerimaan gratifikasi dari proyek Hambalang dan proyek-proyek lain.

Anas Urbaningrum pun mengharapkan, agar dalam penyidikan kasusnya, maka KPK bersikap adil, profesional dan transparan, termasuk memanggil orang-orang yang layak dipanggil. “Dalam penyidikan saya awalnya gratifikasi mobil Toyota Harrier, berkembang ke kongres Partai Demokrat, tim relawan saya banyak yang dipanggil, tempat penginapan juga, komentar saya adalah jangan saksi yang layak dipanggil tapi tidak dipanggil, saya ingin KPK bekerja adil, profesional, transparan," jelas Anas Urbaningrum.

Pihak yang menurut Anas Urbaningrum layak dipanggil KPK adalah Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) yang pada saat kongres pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat saat itu menjabat sebagai tim pengarah (steering committee).

Nama Ibas disebut oleh mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Group, perusahaan milik mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, Yulianis, menerima US$ 200.000 dari perusahaan tersebut untuk keperluan Kongres Partai Demokrat.

Yulianis mencatat pengeluaran uang tersebut dalam bukunya, namun orang yang memberikan uang kepada Ibas adalah Muhammad Nazaruddin.

Menurut Juru Bicara KPK Johan Budi Sapto Prabowo, pemeriksaan Ibas di KPK dimungkinkan bila Anas Urbaningrum (AU) memberikan keterangan yang benar. "Pemeriksaan Edhi Baskoro tergantung apakah saudara AU memberikan keterangan kepada penyidik KPK, keterangan itu tidak asal keterangan, tapi didukung bukti-bukti pendukung, karena perlu divalidasi," papar Juru Bicara KPK, Johan Budi SP.

Johan Budi SP. pun menegaskan bahwa KPK hanya mengurus masalah hukum dan tidak terlibat dalam politik. "Yang dilihat KPK adalah domain hukum, bukan kedekatan politik atau kekuasaan. Dia jadi tersangka karena KPK menemukan dua alat bukti yang cukup, pasal-pasal sangkaan diuji di pengadilan nanti," elaborasi Johan Budi SP. Namun, ia menolak menjelaskan apa saja proyek-proyek lain yang disangkakan kepada Anas Urbaningrum.

Bila ditelusuri, maka Ketua KPK Abraham Samad pada Juli 2013 sempat mengungkapkan proyek lain di luar Hambalang yang terkait dengan Anas Urbaningrum, yaitu proyek pengadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan proyek pendidikan tinggi di Kementerian Pendidikan Nasional.

KPK juga mendalami dugaan aliran dana dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). KPK misalnya telah memeriksa Direktur Utama PT. Bio Farma Iskandar dan Direktur Keuangan PT. Bio Farma Mohammad Sofie A. Hasan. KPK juga pernah memeriksa Kepala Divisi Operasi III PT. Pembangunan Perumahan Lukman Hidayat meski PT. PP bukan termasuk BUMN yang melakukan kerja sama operasi (KSO) proyek Hambalang.

KPK juga telah menggeledah empat rumah Anas Urbaningrum pada Selasa (12/11/2013). Dari penggeledahan itu KPK menyita uang Rp 1 miliar, paspor atas nama Athiyyah Laila, kartu nama atas nama presiden PT. AA Pialang Asuransi Wasit Suadi, kartu nama Direktur PT. Adhi Karya Bambang Tri, kartu nama PT. Pembangunan Perumahan Ketut Darmawan, buku tahlilan dengan gambar Anas Urbaningrum serta empat unit telepon selular "Blackberry" dan satu telepon selular merek lain.

Dalam surat dakwaan mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen dalam proyek Hambalang Deddy Kusdinar, Anas Urbaningrum disebutkan diduga telah menerima hadiah dalam pengurusan proyek Hambalang dan proyek-proyek lainnya. Anas Urbaningrum disangkakan menerima hadiah berupa uang Rp 2,21 miliar dari proyek Hambalang di antaranya dari PT. Adhi Karya untuk membantu pencalonan sebagai Ketua Umum dalam Kongres Partai Demokrat tahun 2010 yang diberikan secara bertahap pada 19 April 2010 hingga 6 Desember 2010. Hadiah itu diberikan ke Anas Urbaningrum sebagai tanda terima kasih karena PT. Adhi Karya mengerjakan proyek Hambalang. Uang itu diserahkan ke Anas Urbaningrum digunakan untuk keperluan Kongres Partai Demokrat, antara lain memabyar hotel dan membeli BlackBerry beserta kartunya, sewa mobil bagi peserta kongres yang mendukung Anas Urbaningrum, dan juga jamuan dan entertain.

Tim penasihat hukum Anas Urbaningrum juga masih mempertimbangkan apakah akan mengajukan gugatan praperadilan terhadap kliennya. “Upaya hukum kan memang begitu. Kalau pihak tersangka merasa penahanannya itu bertentangan dengan hukum acara dan UU, maka KUHAP menyediakan satu forum untuk menguji sah atau tidaknya penahanan, itu harus kita diskusikan dengan yang bersangkutan, apakah beliau mau menggunakan upaya itu," ungkap salah seorang anggota tim penasihat hukum Anas Urbaningrum, Patra M. Zen, saat menjenguk Anas Urbaningrum di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (10/1/2014) malam.

Patra M. Zen dan tim penasihat hukum Anas Urbaningrum tidak mendampingi kliennya saat datang ke KPK, sehingga Anas Urbaningrum selama 4 jam di KPK pun tidak menjalani pemeriksan karena sesuai dengan ketentuan seorang tersangka harus didampingi oleh penasihat hukum saat diperiksa.

Mantan Ketua Umum PB HMI, Anas Urbaningrum juga menolak untuk ditahan karena tidak didampingi penasihat hukum, tapi hal itu tidak menghalangi kewenangan KPK untuk menahan Anas Urbaningrum.

Anas Urbaningrum ditahan di sel yang pernah ditempati mantan Bupati Buol Amran Batalipu, yang berada di ruang bawah gedung KPK dengan fasilitas tempat tidur dan lemari kecil, tanpa penyejuk udara namun dilengkapi kipas angin.

Ia pun harus menggunakan kamar mandi bersama-sama dengan tahanan lain.

KPK juga mengkondisikan Anas Urbaningrum tidak berhubungan dengan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alfian Mallarangeng yang juga sudah ditahan di rutan KPK terkait kasus dugaan korupsi pembangunan proyek Hambalang. Andi Alfian Mallarangeng ditahan di lantai atas Gedung KPK.

Untuk makanan, pihak keluarga Anas Urbaningrum mengatakan, akan sepenuhnya mengirimkan makanan untuk Anas Urbaningrum. "Tadi kami di dalam bersama keluarga menyampaikan bahwa mohon hak mas Anas untuk konsumsinya itu sepenuhnya akan dikirim dari keluarga. Jadi silakan uang rakyat, uang yang digunakan untuk konsumsi para tahanan digunakan untuk tahanan yang lain," tutur I Gede Pasek Suardika dalam pernyataan pers di markas PPI Jakarta, Jumat (10/1/2014) malam.

I Gede Pasek Suardika berharap, agar KPK menjaga keamanan Anas Urbaningrum selama di tahanan, apalagi dengan adanya fenomena insiden pelemparan telur. "Kami sendiri, yakin tidak akan terjadi apa-apa di sana. Pimpinan KPK pasti akan bertanggung jawab, tapi melihat fenomena tadi, hal kecil saja tidak mampu diamankan, jadi wajar keluarga berkepentingan menjaga rasa aman," tukas I Gede Pasek Suardika.

Keluarga Anas Urbaningrum pada Jumat sekitar pukul 22.00 WIB sudah mengantarkan satu koper berisi berbagai keperluan Anas Urbaningrum, yaitu Al-Quran, baju, alat shalat, sarung, dan makanan.

Ibunda Anas Urbaningrum, Hj. Sriyati yang tinggal di Desa Ngaglik, Blitar, Jawa Timur, mengatakan bahwa keluarga tetap berharap Anas Urbaningrum kuat menghadapi cobaan dan keluarga tetap mendoakan secara tulus. "Mudah-mudahan ia kuat menghadapi cobaan ini. Orang tua hanya mendoakan dan berharap lekas selesai. Anas orangnya pendiam dan hemat bicara. Jika urusan yang menyangkut dengan hal besar, maka jarang dibicarakan," kata Hj. Sriyati.

Anas Urbaningrum pun membalas dukungan yang telah diberikan oleh keluarga dan loyalisnya. Sesungguhnya Anas Urbaningrum juga menyampaikan "balasan" terima kasih kepada pimpinan dan penyidik KPK dan tidak ketinggalan untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Di atas segalanya saya berterima kasih kepada Pak SBY, sesudah peristiwa ini punya arti, punya makna dan menjadi hadiah tahun baru 2014, yang lain-lain nanti saja, yang saya yakin adalah ketika kita berjuang tentang kebenaran dan keadilan, ujungnya kebenaran akan menang, terima kasih," kata Anas Urbaningrum saat keluar dari Gedung KPK sambil mengenakan rompi tahanan KPK berwarna oranye.

Anas Urbaningrum memang menjadi tersangka pertama yang ditahan oleh KPK pada 2014 ini. Ia sempat mengemukakan kasusnya ibarat buku, yang akan dibukanya halaman demi halaman. Masyarakat agaknya harus rela menunggu halaman-halaman berikutnya yang akan dibuka Anas Urbaningrum. (ant)

See Also

Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.830 Since: 05.03.13 | 0.1845 sec