Hukum

Mantan Kepala SKK Migas Didakwa Melakukan Pencucian Uang

Wednesday, 08 Januari 2014 | View : 750

JAKARTA-SBN.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Penerimaan uang hadiah atau janji kepada mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) disebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menganggap Rudi Rubiandini melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) mengaku sakit hati karena dianggap melakukan pencucian uang. Terkait dakwaan pencucian uang Rudi Rubiandini merasa keberatan pasalnya ia berkilah uang yang digunakan selama ini adalah uang milik pribadinya. "Semua uang milik saya. Saya tidak miskin-miskin amat, oleh karena itu saudara-saudara sekalian ketika saya dibacakan melakukan tindak pidana pencucian uang, sakit hati rasanya saya," tukas Rudi Rubiandini seusai sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jakarta, Selasa (7/1/2014).

Rudi Rubiandini memang mengakui menerima suap. Tetapi, dari uang suap yang diterimanya, ia menegaskan tidak menggunakannya satu rupiah pun untuk kepentingan dirinya ataupun keluarganya.

Sebelumnya, Rudi Rubiandini sudah mengaku ada permintaan dari pihak pemerintah untuk memberikan uang dengan alasan kebutuhan. "Pada Juni-Juli, ketika ada kebutuhan stakeholder yang meminta kebutuhan akan sesuatu, demi kebaikan institusi saya pindahkan uang gratifikasi kepada pihak yang membutuhkan tadi," tutur Rudi Rubiandini seusai sidang.

Namun, dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Selasa (7/1/2014), terungkap bahwa Rudi Rubiandini melakukan pencucian uang dengan cara membelanjakan uang yang diduga dari suap yang diterimanya. Dari surat dakwaan diketahui bahwa salah satu cara pencucian uang yang dilakukan Rudi Rubiandini adalah dengan membelanjakan uang tersebut. “Terdakwa Rudi meminta Deviardi membelikan jam Rolex Datejust seharga US$ 11.500 atau senilai Rp 106 juta untuk diberikan kepada Elin Herlina (istri Rudi). Sedangkan terdakwa meminta Deviardi membelikan jam tangan merek Citizen Eco Drive Saphire warna silver,” beber Jaksa Iskandar Marwanto saat membacakan surat dakwaan dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Selasa (7/1/2014).

Terkait pembelian jam merek Rolex tersebut sebelumnya pernah diungkapkan oleh Deviardi ketika bersaksi dalam sidang untuk terdakwa komisaris PT. Kernel Oil Pte. Ltd. (KOPL), Simon Gunawan Tanjaya.

Dalam dakwaan disebut, Rudi Rubiandini melakukan sejumlah hal guna menyembunyikan uang yang diterimanya. "Terdakwa Rudi Rubiandini melakukan atau turut serta melakukan serangkaian perbuatan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana korupsi dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan," ungkap Jaksa Iskandar Marwanto di sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jakarta, Selasa (7/1/2014).

Uang gratifikasi itu dicoba ditutupi oleh Rudi Rubiandini, dengan berbagai hal, seperti membeli mobil Volvo XC90 3.2 dan Toyota Sedan Camry, membeli rumah di Tebet, membeli jam tangan Rolex-Datejust dan Citizen Echo Drive Saphire, membayarkan uang gedung untuk pernikahan anaknya, dan mengalihkan uang ke Safe Deposit Box. Itu semua, imbuh Jaksa Penuntut Umum KPK, Andi Suharlis, untuk mencuci uang.

Jaksa Iskandar Marwanto memaparkan, Rudi Rubiandini menggunakan uang hadiah yang diterima untuk membeli mobil Volvo XC90 3.2 dan Toyota Sedan Camry, membeli rumah di Tebet, membeli jam tangan Rolex-Datejust dan Citizen Echo Drive Saphire, membayarkan uang gedung untuk membiayai pernikahan anaknya dan premi asuransi, mentransfer kepada kakak dan adik terdakwa, dan mengalihkan uang disimpan ke dalam Safe Deposit Box milik Rudi Rubiandini juga milik pelatih golfnya, Deviardi. “Terdakwa membayarkan sejumlah uang senilai Rp 405.051.500 kepada Mayaza Wedding Organizer di Jalan Cigadung Raya Barat Bandung sebagai biaya cicilan pernikahan anaknya,” kata Jaksa Iskandar Marwanto.

Tidak sampai di situ, uang yang diterima dalam bentuk dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat juga ditukar dengan uang rupiah. Dalam dakwaan diketahui uang tersebut berasal dari Widodo Ratanachaitong dan Simon Gunawan Tanjaya dari PT. Kernel Oil Private Limited (KOPL), Artha Meris Simbolon dari PT. Kaltim Parna Industri, juga dari sejumlah pejabat SKK Migas yakni Yohanes Widjanarko yang menjabat Wakil Kepala SKK Migas, Gerhard Rumesser yakni Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas, serta Iwan Ratman, Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas.

Terkait Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) ini, Rudi Rubiandini diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana.

Selain itu, Rudi Rubiandini juga diancam dan dijerat Pasal 12 huruf a UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana. Atau Pasal 12 huruf b jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 11 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana. (kom/tem)

See Also

Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.852 Since: 05.03.13 | 0.1539 sec