Hukum

Kesaksian Pemulung Di Malam Tewasnya Sisca Yofie

Tuesday, 07 Januari 2014 | View : 1464

BANDUNG-SBN.

Sidang kasus pembunuhan secara sadis terhadap Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) lalu dengan dua tersangka yaitu Wawan alias Awing (39) dan Ade Ismayadi alias Epul (24), kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Jawa Barat, Senin (6/1/2014). Kali ini sidang beragenda pemeriksaan saksi-saksi.

Saksi pertama yang diperiksa adalah seorang warga berprofesi pemulung bernama Yadi Supardi yang melihat langsung proses awal penjambretan terhadap Sisca Yofie.
Usai diambil sumpahnya, Yadi Supardi langsung dimintai keterangannya sebagai saksi.

"Sidang ini biasa-biasa saja. Tidak perlu gimana," kata Ketua Majelis Hakim di Parulian Lumban Toruan di awal sidang.

Awalnya sidang berjalan lancar. Yadi Supardi sebagai saksi membeberkan segala sesuatu yang diketahuinya di hadapan Majelis Hakim, Jaksa, terdakwa, dan kuasa hukum.

Yadi Supardi yang berprofesi sebagai pemulung terdengar pelan saat memberi kesaksian.

Namun saat menjelaskan bagaimana kejadian di malam Sisca Yofie tewas, Yadi Supardi terdengar begitu berbelit-belit dan tak jelas. "Saya lihat ada yang berantem, korban (Sisca) memukul-mukul yang dibonceng," katanya.

Namun, beberapa saat kemudian Ketua Majelis Hakim Parulian Lumban Toruan, merasa kesaksian Yadi Supardi janggal karena berbeda dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Yadi Supardi, seorang pemulung yang dihadirkan menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara tewasnya Sisca Yofie agar tak memberikan keterangan berbelit saat ditanyai hakim.

Ketua Majelis Hakim Parulian Lumban Toruan kemudian meminta JPU untuk membacakan jawaban saksi dalam BAP. Di situ diterangkan bahwa Yadi Supardi menyatakan melihat adanya pembacokan. "Kamu di situ bisa jelaskan dengan jelas. Kenapa di sini beda," tanya Hakim Parulian Lumban Toruan.

Yadi Supardi mengaku bahwa ia gugup saat dimintai keterangan. Hal itu justru membuatnya dicecar hakim. "Kalau gugup kan harusnya malah enggak keluar. Itu kok malah jelas. Yang benar kamu," cecar hakim.

Pemulung yang memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan tewasnya Sisca Yofie, Yadi Supardi masih saja berbelit-belit memberikan keterangan. Beberapa kali menyeka keringat dan terlihat tegang, majelis hakim pun meminta Yadi Supardi untuk berterus terang dan tak menutup-nutupi kejadian. “Kenapa kamu? Kalau kamu bohong dan terpengaruh nanti ada perasaan kamu bersalah. Kamu sebagai saksi dilindungi, kamu jangan sampai takut,” ucap Hakim Parulian Lumban Toruan kepada saksi.

Hakim pun menanyakan, apakah ada yang membuat Yadi Supardi merasa takut. Yadi Supardi hanya diam. Saat hakim kembali menanyakan, apakah Yadi Supardi takut dengan terdakwa ia pun mengangguk. "Kenapa kamu takut. Kamu tidak kenal kan dengan mereka," kata hakim.

Saksi Yadi Supardi mengaku gugup dan takut dengan dua terdakwa yang duduk di samping kuasa hukumnya. Yadi Supardi mengaku takut dengan kedua terdakwa yaitu Wawan dan Ade.

Majelis hakim pun terlihat berunding. "Kalau kami keluarkan terdakwa, janji berikan keterangan yang benar ya?," kata Hakim Parulian Lumban Toruan. Yadi Supardi pun mengangguk.

Setelah beberapa saat berembuk, Majelis Hakim yang diketuai Parulian Lumban Toruan pun akhirnya memerintahkan petugas membawa keluar dua terdakwa Wawan alias Awing (39) dan Ade Ismayadi alias Epul (24) untuk meninggalkan persidangan. Majelis hakim yang dipimpin Parulian Lumban Toruan pun akhirnya memilih mengeluarkan kedua terdakwa dari ruang sidang supaya Yadi Supardi tidak merasa takut. Hal itu terjadi saat Yadi Supardi dimintai kesaksiannya di ruang sidang VI Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LRE Martadinata, Senin (6/1/2014).

Kedua terdakwa, Wawan dan Ade pun dibawa keluar ruang sidang oleh petugas. Saat dikeluarkan, keluarga Sisca Yofie terlihat mengeluarkan komentar-komentar yang tak terlalu terdengar. Yadi Supardi pun kembali dimintai kesaksiannya.

Namun, dikeluarkannya terdakwa tak juga membuat Yadi Supardi lebih jelas. Ia masih saja berbelit-belit dan tak jelas saat memberi kesaksian.

Ia berkali-kali harus diingatkan dengan keterangannya dalam BAP baru kemudian menjelaskannya yang mana yang ia akui dan mana yang kemudian ia sanggah.

Misalnya saat ia memberikan keterangan, soal posisi pelaku dan korban saat pembacokan terjadi. Ia menyebut pelaku berdiri, namun juga kemudian beberapa saat mengatakan sedang berada di motor.

Begitu juga saat keterangan apakah Yadi Supardi melihat tubuh korban diseret atau tidak.

Pemuda tanggung itu terlihat berkeringat hingga hakim merasa Yadi Supardi menutup-nutupi sesuatu.

"Kenapa kamu sampai berkeringat begitu. Padahal yang lain di sini merasa biasa saja. Ada yang kamu sembunyikan? Keluarkan, jangan ditutup-tutupi," tutur Hakim Parulian Lumban Toruan. Yadi Supardi pun hanya terdiam.

Hakim Parulian Lumban Toruan menanyakan, apakah Yadi Supardi pernah mendapatkan ancaman dari siapapun atas kasus ini, ia pun mengelaknya. "Kamu berada di bawah perlindungan hukum. Jangan takut," katanya.

Yadi Supardi, seorang pemulung yang dihadirkan dalam sidang lanjutan tewasnya Sisca Yofie memberikan kesaksian yang ia alami, lihat, dan dengar sebelum Sisca Yofie meregang nyawa.

Yadi Supardi, seorang saksi mata penjambretan yang menewaskan Sisca Yofie, membeberkan kejadian yang disaksikannya. Dia menjadi saksi dalam sidang di Pengadilan Negeri Bandung hari ini.

Yadi Supardi menceritakan, malam itu usai berbuka puasa ia menggunakan motor melewati Jalan Setra Indah Utara untuk ke rumah neneknya mengambil sepatu dan nasi.

Dalam kesaksiannya, Yadi Supardi mengaku melihat dua orang, Wawan dan Ade, sedang cekcok dengan Sisca Yofie. Saat itu, ia melihat ada sepeda motor dalam kondisi mati yang ditumpangi dua orang pria. "Yang dibonceng turun sambil membawa golok," cerita Yadi Supardi di depan sidang yang diketuai oleh Parulian Lumban Toruan. "Jarak saya cukup dekat dengan kejadian. Hanya, saat itu kondisi cukup gelap karena tidak ada lampu. Saat itu, saya melihat ada motor berhenti, yang satu orang diam di motor dan satu lagi menghampiri korban,” jelasnya, Senin (6/1/2014).

Setelah melewati motor tersebut, Yadi Supardi berbelok masuk ke gang. Kemudian ia kembali keluar mulut gang lalu melihat seorang perempuan seperti dalam keadaan mengejar pria yang tadi membawa golok menuju motor. Selang beberapa saat, Yadi Supardi sempat menyaksikan korban seperti mengejar pelaku yang kabur menggunakan sepeda motor. Korban mendekap pelaku yang dibonceng.

Ia melihat dalam posisi korban menghadap pria yang dibonceng, golok diayunkan ke arah belakang dan mengenai kepala. “Kejadian itu sebentar, hanya hitungan menit. Waktu itu saya melihat korban seperti mau mengejar dan berantem dengan orang yang dibonceng. Saya lihat tangan korban seperti memukul-mukul, sedangkan tangan pelaku mengayun ke belakang seperti membacok," tuturnya. "Kaya yang lagi berantem," katanya. "Saya masuk lagi ke gang soalnya takut," tuturnya.

Namun setelah motor itu pergi menuju ke arahnya yang tengah berada di mulut gang (ke arah bawah), ia langsung masuk dan tak melihat lagi. Pelaku pun melarikan diri ke arah Yadi Supardi. Karena ketakutan, dia tak berani mendekat dan memilih masuk ke dalam gang. "Saya takut, jadi saya kabur ke gang," katanya.

Motor dinyalakan lalu melaju ke arah bawah dan melewati gang Yadi Supardi masuk. Usai melewatinya, motor yang melaju kencang itu belok ke kiri di persimpangan.

Sekitar jarak 15 meter, Yadi Supardi yang sebelumnya sempat bilang melihat tubuh korban diseret lalu kemudian menyanggahnya pun menyatakan tak jelas. "Saya enggak lihat jelas," katanya.

Begitu juga keterangan dirinya melihat korban dijatuhkan, Yadi Supardi pun mencabutnya. "Saya enggak lihat kalau jatuhinnya," tutur Yadi Supardi.

Usai melihat kejadian tersebut, Yadi Supardi pun melapor pada satpam di pos tak jauh dari kejadian. "Saya bilang ada yang berantem. Tapi dia bilang 'bohong', enggak percaya," katanya.

Saat Ketua Majelis Hakim, Parulian Lumban Toruan, menanyakan soal golok dan dugaan penyeretan, Yadi Supardi mengaku hanya bisa memastikan bahwa korban sempat dibacok oleh pelaku. "Golok itu dari pertama menghampiri korban. Saya hanya lihat waktu pelaku mengayunkan golok kena dahi korban. Kalau diseret atau dipegang saya tidak melihatnya. Karena saat itu saya langsung masuk ke dalam gang," ucapnya.

Usai Yadi Supardi memberi kesaksian dan meninggalkan ruang sidang, kedua terdakwa yaitu Wawan dan Ade pun kembali dibawa masuk.

Majelis hakim menerangkan isi keterangan yang diberikan Yadi Supardi saat sidang. Sementara itu, terdakwa Wawan menyangkal apa yang dikatakan Yadi Supardi. Atas kesaksian Yadi Supardi tersebut, Wawan menyatakan ia tidak membacok korban di motor sebelum dijalankan. Menurut dia, saat Sisca Yofie mengejarnya, golok tersebut masih disimpan di pinggang. “Golok itu diselipkan di sini (sambil menunjuk pinggang). Golok baru digunakan saat di jembatan situ,” bebernya. "Saya bacoknya pas di jembatan," katanya.

Persidangan yang digelar di Ruang Sidang IV PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Jawa Barat itu juga menghadirkan saksi lain, salah satunya anak pemilik kos tempat Sisca Yofie menginap. (det/tem)

See Also

Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.470 Since: 05.03.13 | 0.1778 sec