Hukum

Mantan Menpora Mengaku

Tuesday, 07 Januari 2014 | View : 772

JAKARTA-SBN.

Persidangan terdakwa kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan serta Sekolah Olahraga Nasional di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Deddy Kusdinar, kembali digelar hari ini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta.

Pada persidangan lanjutan lanjutan kasus proyek milik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga berencana akan menghadirkan lima saksi lain, yang di antaranya adalah mantan Menpora, Andi Alfian Mallarangeng dan mantan Kepala Divisi Kontruksi I PT. Adhi Karya, Teuku Bagus Mohammad Noor.

Dalam Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta hari ini Selasa (7/1/2014) akan menghadirkan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Alfian Mallarangeng, di sidang kasus proyek pembangunan sport center Hambalang, Jawa Barat sebagai saksi untuk terdakwa mantan Kepala Biro Keuangan Dan Rumah Tangga Kemenpora Deddy Kusdinar terkait proyek pembangunan gedung olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Mantan Menpora tersebut, Andi Alfian Mallarangeng akan diperiksa kesaksiannya ihwal dugaan korupsi bekas anak buahnya tersebut di proyek senilai Rp 2,5 triliun. “Saksi Hambalang, Selasa (7/1/2014), yakni Dr. Andi Alfian Mallarangeng, Teuku Bagus M. Noor, Sutrisno, M. Mokorobin, dan Heny Susanto," tulis kuasa hukum Deddy Kusdinar, Rudy Alfonso, melalui pesan singkatnya kepada wartawan, Selasa (7/1/2014).

Selain menggali kesaksian mereka, Jaksa juga akkan menghadirkan mantan Kepala Divisi Kontruksi I PT. Adhi Karya, Teuku Bagus Mohammad Noor.

Sidang lanjutan yang dipimpin oleh Hakim Ketua Majelis Amin Ismanto ini, dijadwalkan akan digelar pada pukul 13.00 WIB. "Sidang pukul 13.00 WIB," sambung Rudy Alfonso.

Saat proyek itu berjalan, Andi Alfian Mallarangeng menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Dia menggantikan Adhyaksa Dault. Proyek Hambalang yang direncanakan sejak tahun 2005 baru mulai berjalan di masa kepemimpinan Andi Alfian Mallarangeng. Anggaran proyek yang dirancang sebesar Rp 125 miliar membengkak di masa kepemimpinan Andi Alfian Mallarangeng sebanyak empat kali, dan terakhir menyentuh Rp 2,5 triliun.

Dalam dakwaan Deddy Kusdinar, Andi Alfian Mallarangeng juga disebut turut mengusahakan persetujuan penambahan anggaran proyek Hambalang di Komisi X DPR RI.

Kepada mantan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharam, Andi Alfian Mallarangeng berjanji bisa mempermudah pengurusan anggaran Hambalang karena menganggap beberapa anggota Komisi X DPR RI adalah sahabatnya.

Andi Alfian Mallarangeng juga disebut meminta jatah komisi proyek Hambalang melalui adiknya, Andi Zulkarnaen Anwar Mallarangeng alias Choel.

Tersangka kasus korupsi Hambalang lainnya, Andi Alfian Mallarangeng di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor mengakui bahwa adik kandungnya, Andi Zulkarnaen Anwar atau akrab dipanggil Choel Mallarangeng menerima sejumlah uang terkait proyek Hambalang.

“Ketika saya menulis surat pengunduran diri sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) pada Presiden, adik saya mengatakan minta maaf, bersalah,” beber Andi Alfian Mallarangeng ketika bersaksi untuk terdakwa Deddy Kusdinar dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (7/1/2014).

Mendengar pengakuan adiknya tersebut, ia mengaku meminta adiknya mengembalikan uang yang diterimanya ke KPK.

Dalam surat dakwaan milik terdakwa Deddy Kusdinar terungkap bahwa Choel Mallarangeng menerima Rp 4 miliar dan US$ 550.000 untuk Andi Alfian Mallarangeng.

Selain itu, terungkap bahwa Choel mewakili Andi Alfian Mallarangeng menyampaikan ke Wafid Muharram untuk meminta fee 18% dari proyek Hambalang.

Komisi proyek yang disepakati adalah 18 persen dari anggaran yang cair. Permintaan fee tersebut disampaikan ke PT. Adhi Karya yang menyatakan secara langsung berminat ikut dalam proyek Hambalang. Pertemuan di ruangan Menpora itu dihadiri oleh Choel, Mohammad Fakhruddin (staf Kemenpora), dan Arief Taufiqurrahman.

Seperti diketahui, Choel pernah mengakui menerima uang Rp 2 miliar dari Herman Prananto, Dirut PT. Global Daya Manunggal, perusahaan subkontraktor pelaksana proyek Hambalang. Dan juga mengakui menerima sejumlah uang dari Deddy Kusdinar.

“Kepada penyidik, saya jelaskan bahwa Deddy Kusdinar pernah datang ke rumah saat saya ulang tahun pada 28 Agustus 2010. Yang bertepatan dengan ulang tahun putri saya. Jadi, hari Sabtu Deddy datang memberikan uang yang jumlahnya cukup besar,” katanya usai menjalani pemeriksaan selama lebih dari 10 jam di kantor KPK, plaza Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Namun, Choel mengaku tidak mengetahui peruntukan uang tersebut. Sebab, Deddy Kusdinar tidak pernah mengatakan maksud dari pemberian uang tersebut.

Sementara itu, Teuku Bagus Mohammad Noor adalah mantan Direktur Operasional PT. Adhi Karya. Dia orang yang menyetujui memberikan Rp 12 miliar sebagai imbalan kepada beberapa pihak yang mengusahakan perusahaan pelat merah itu berhasil menggaet proyek Hambalang. Uang itu diberikan antara lain kepada Anas Urbaningrum, Andi Alfian Mallarangeng, Munadi Herlambang, Machfud Suroso, dan beberapa pihak lain. Andi Alfian Mallarangeng dan Teuku Bagus Mohammad Noor sendiri saat ini sama-sama sudah menyandang status tersangka dalam kasus ini. Keduanya pun telah ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sudah mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) KPK. (tem/ant)

See Also

Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.802.483 Since: 05.03.13 | 0.1341 sec