Hukum

Kapolri: Buku Abu Bakar Baasyir Diduga Penyebab Maraknya Perampokan

JAKARTA-SBN.

Buku Tadzqirah karangan Pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba'asyir diduga menjadi salah satu penyebab maraknya aksi perampokan terhadap bank dan toko emas oleh teroris. Buku tersebut melegalkan seorang teroris melakukan aksi perampokan untuk kegiatan pencarian dana demi mendukung aksi terorisme.

Hal itu dikatakan Kapolri Jenderal Pol Sutarman seusai mengunjungi salah seorang anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror yang menjadi korban penembakan saat penggerebekan di salah satu rumah kontrakan terduga teroris di Jalan KH Dewantoro, Gang Haji Hasan, RT04/RW07, Kelurahan Kampung Sawah, kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pada Selasa (31/12/2013) malam hingga Rabu (1/1/2014) dini hari silam.

Perampokan BRI cabang Panongan, Kabupaten Tangerang, Banten, memiliki rangkaian keterkaitan yang kuat dengan temuan bom yang tertinggal di sebuah warung tegal, Selasa (24/12/2013).

Kapolri Jenderal Polisi Sutarman mengatakan, dari hasil pemeriksaan Anton alias Septi, tersangka yang ditangkap di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (31/12/2013), bom itu merupakan milik Nurul Haq alias Jeck.

Nurul Haq alias Jeck merupakan salah satu tersangka teroris yang ditembak mati saat penggerebekan di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (1/1/2014).

"Itu punyanya dia (Nurul Haq) dari hasil pemeriksaan Anton yang kita tangkap di Jawa Tengah, Banyumas," ungkap Jenderal Pol. Sutarman di sela-sela menjenguk anggota Densus 88 Besar Polri di sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (2/1/2014).

Menurut mantan Kabareskrim Jenderal Polisi Sutarman, bom itu tidak sengaja ditinggal di warteg setelah merampok. Namun, lanjut dia, bom itu tertinggal karena Nurul Haq panik lalu kabur karena takut ditangkap warga usai merampok.

Menurutnya, kemungkinan saat makan di warteg itu bom dilepas dari badan. Karena dalam kondisi terdesak, katanya, pelaku buru-buru meninggalkan warteg dan bom tertinggal.

Mantan Kabareskrim Jenderal Polisi Sutarman menjelaskan bom itu memang dibawa saat merampok. Jika pelaku dipergok saat merampok, maka bom itu akan diledakkan. "Dia memang seperti itu, bom itu nempel terus di badannya," beber dia.

Pada bagian lain, Jenderal Polisi Sutarman mengaku kelompok ini juga memiliki keterkaitan dengan Abu Roban. Menurutnya, Abu Roban memiliki beberapa jaringan di timur dan barat.

Bahkan, jaringan itu memiliki rangkaian termasuk gembong teroris Poso, Sulawesi Tengah, Santoso yang merupakan anak buah Abu Roban. Santoso diduga mengendalikan pelatihan-pelatihan teroris di wilayah timur maupun barat.

"Dan sel ini seolah memiliki kemampuan, mereka bergerak sendiri-sendiri bahkan ada doktrinasi," katanya.

Mantan Kabareskrim Jenderal Polisi Sutarman mengimbau kepada alim ulama maupun tokoh masyarakat untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa melakukan perampokan untuk membiayai operasional teroris itu tidak benar. "Saya kira di agama manapun tidak dibenarkan. Oleh karenanya ita juga harus bisa menyampaikan," ungkapnya.

Jenderal Polisi Sutarman mengatakan kelompok teroris di Indonesia dulu memang dibantu dana-dana dari kelompok teroris internasional. "Itu sudah bisa kita kurangi," katanya.

Namun, katanya, karena melakukan aksi teror membutuhkan anggaran maka mereka mendapatkannya dengan cara merampok.

Awalnya, lanjut Jenderal Polisi Sutarman, kelompok teroris itu ragu-ragu merampok. Namun, lanjutnya,  setelah ada buku Tadzkirah karya Abu Bakar Ba’asyir  maka kelompok itu tidak ragu-ragu. Menurut mantan Kabareskrim Jenderal Polisi Sutarman, mulanya, para teroris tersebut ragu untuk melakukan perampokan. Namun, berkat buku tersebut para teroris itu akhirnya yakin. “Anggaran itu didapat dari merampok. Ada bukunya Abu Bakar Ba'asyir, Tadzqirah, yang menyatakan bahwa merampok untuk kepentingan (terorisme) itu dihalalkan," tuturnya, Kamis (2/1/2014).

Penggerebekan teroris di Kampung Sawah, Ciputat, Tangsel pada malam tahun baru lalu mengungkap masih maraknya jaringan terorisme di Indonesia. Para teroris muda itu dinilai telah terdoktrin oleh buku karangan Abu Bakar Ba'asyir berjudul Tadzkirah. Salah satu poin utama isi buku itu adalah menyebutkan bahwa pejabat negara dan aparat polisi disebut sebagai Thogut (penghalang pembentukan syariat Islam).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar menegaskan dalam penggerebekan yang menewaskan 6 terduga teroris itu, Densus 88 memang tidak menemukan buku Tadzkirah di TKP. "Nanti kita lihat, kita komunikasikan dengan berbagai pihak yang terkait, yang pasti buku itu ada konten yang tidak sesuai dengan aturan negara kita," ucap Brigjen Pol. Boy Rafli Amar di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (3/1/2014).

Terkait buku yang meresahkan itu, Brigjen Pol Boy Rafli Amar menyarankan agar buku itu bisa ditarik dari peredaran jika terbukti masih diperjualbelikan. Sebab, buku tersebut sama sekali tak dapat dibenarkan ajaran-ajarannya, serta bisa mempengaruhi masyarakat untuk menghancurkan negara. "Kita sarankan seperti itu, karena kita melihat ada ajaran yang menyesatkan di dalam buku-buku itu. Maka kita meminta semua pihak yang terkait untuk memperhatikan buku tersebut. Dan kita minta semua pihak yang memiliki kewajiban mempelajari buku-buku tersebut agar tidak menyebarkan ajaran tersebut, yang dinilai bertentangan dengan aturan negara," ujar Jenderal bintang satu ini.

Dikabarkan sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Sutarman mengatakan bahwa para teroris-teroris yang beraksi selama ini di Indonesia diduga sudah terdoktrinasi dari buku karangan Abu Bakar Ba'asyir yang berjudul Tadzkirah. Jenderal Polisi Sutarman pun yakin bahwa ajaran tersebut sama sekali tak dapat dibenarkan, karena salah satu ajaran di dalamnya menyebutkan bahwa melakukan kejahatan itu diperbolehkan.

Mantan Kabareskrim Jenderal Polisi Sutarman menegaskan, tak ada agama yang menghalalkan perampokan untuk mendukung sebuah kegiatan. Untuk itu, ia mengimbau kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, dan alim ulama untuk mengingatkan kepada masyarakat agar tak melakukan aksi perampokan.

Selain merampok, Kapolri Jenderal Polisi Sutarman mengatakan, tak jarang para teroris yang beroperasi di Indonesia mendapat dukungan dari teroris asing. Namun, diakuinya, bantuan tersebut dapat dicegah. Dengan demikian, para teroris di Indonesia melakukan aksi perampokan untuk mendanai kegiatannya. “Supaya merampok itu mendapat legalisir dan ada bukunya Abu Bakar Ba'asyir yang berjudul Tadzkirah. Di situ mengatakan bahwa merampok untuk kepentingan itu dihalalkan. Itu ajaran dari mana? Itu yang harus kita pertanyakan. Saya kira seluruh bangsa Indonesia juga harus mempertanyakan," papar Jenderal bintang empat ini.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku kaget setelah mendengar laporan bahwa Pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba'asyir membuat buku di dalam penjara. Buku Tadziroh II yang berisi paham radikal itu disebar di dalam penjara. "Bapak presiden terkejut buku ini keluar, kok bisa katanya, bisa ditulis di penjara. Ditulis ditandatangani sendiri. Menurut dia di buku ini (Tadziroh) DPR, MPR thogut. Menurut buku dia juga enggak boleh ada hukum lain selain hukum Allah," papar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbai dalam dialog ormas di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Sabtu (11/5/2013).

Setelah membaca buku bersampul hijau tersebut, tercermin ada ideologi dan paham yang keliru dari Abu Bakar Ba’asyir. Selain itu, ada beberapa kepentingan politik yang diingini Abu Bakar Ba’asyir. "Radikalisme itu paham yang menganggap yang lain salah dan merasa paling memahami ayat dan hadis kemudian menghabisi lawan dengan itu," tukasnya.

Hal yang sama dikatakan dengan oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. Dia menganggap, pemahaman Abu Bakar Ba’asyir dangkal. "Hafal Alquran enggak sampai substansinya. Hal-hal lain kurang cuma bibir saja," pungkasnya.

Pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba’asyir kini mendekam di Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA) atas tuduhan tindak pidana terorisme. (kom/tem)

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.688.189 Since: 05.03.13 | 0.2791 sec