Hukum

Kakak Sisca Yofie Pingsan

BANDUNG-SBN.

Pengadilan Negeri Bandung akhirnya menggelar sidang perdana kasus penjambretan berujung pembunuhan secara sadis terhadap Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) lalu dengan dua tersangka yaitu Wawan alias Awing (39) dan Ade Ismayadi alias Epul (24), di Pengadilan Negeri kelas 1A kota Bandung, Jalan RE Martadinata, Bandung, Jawa Barat pada hari ini, Senin (2/12/2013) pagi.

Berkas kasus ini ada dua, yakni untuk terdakwa Wawan alias Awing dan satu berkas lagi untuk terdakwa Ade Ismayadi alias Epul. Berkas untuk Wawan terdaftar di PN Bandung dengan Nomor 1377/pen/pid/2013/pnbdg, dan untuk Ade Ismayadi bernomor 1378/pen/pid/2013/pnbdg atas nama Ade Ismayadi.

Sidang perdana ini dimulai pukul 09.30 WIB dan sidang itu sendiri dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Parulian Lumban Toruan dengan dua anggota hakim, yakni Parudur Baskara dan Parlas Nababan.

Tampak kedua terdakwa sekitar pukul 09.50 WIB memasuki ruangan VI dan langsung duduk di kursi pesakitan. Sidang perdana ini digelar dengan agenda pembacaan dakwaan. Terdakwa Wawan akan disidang terlebih dahulu. Dua terdakwa masing-masing Wawan (39) dan Ade (24) secara bergiliran mendengarkan surat sekaligus pembacaan dakwaan, dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sidang itu dipadati pengunjung, termasuk beberapa orang anggota keluarga Sisca Yofie dan kuasa hukumnya. Dari pantauan, keempat kakak kandung Sisca Yofie yaitu Nefi, Silvi, Elfie, Meivi terlihat hadir yang langsung duduk di barisan depan kursi pengunjung pada sidang perdana dengan terdakwa Ade dan Wawan itu.

Isak tangis keluarga Sisca Yofie mengiringi persidangan Wawan alias Awing (39) dan Ade Ismayadi alias Epul (24) di Pengadilan Negeri Bandung, Senin (2/12/2013). Keluarga korban tak kuasa menahan kesedihan saat mendengarkan dakwaan Jaksa yang menyebutkan kronologis pembunuhan sadis yang terjadi pada 5 Agustus 2013 lalu tersebut. Keempat kakak Sisca Yofie terlihat menangis ketika terdakwa mulai disidang dan Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaan.

Seusai sidang perdana selesai, kuasa hukum keluarga Sisca Yofie, Hairullah M. Nur, dan empat kakak kandung Sisca Yofie, langsung menghampiri hakim Parulian Lumban Toruan. Dengan bercucuran air mata, mereka meminta hakim agar menjalankan sidang secara adil, terbuka, dan transparan agar kebenaran bisa terbuka dalam kasus ini. “Tolong dibantu Pak ya, tolong dipelajari dulu. Tolong bantu Pak, jangan hanya terpaku kepada berkas, tapi lihat kebenarannya karena kami nilai ini masih janggal," pinta Elfie sambil menangis. “Baik, baik, baik,” jawab Parulian Lumban Toruan.

Pihak keluarga Sisca Yofie langsung mendatangi majelis hakim sambil menyerahkan surat berisi fakta dan keterangan hasil investigasi keluarga terkait kasus Sisca Yofie.

Surat yang ditandatangani kakak kandung Sisca Yofie, Elfie, 40 tahun, sebelumnya sudah disampaikan kepada Ketua PN Bandung, Nur Hakim. Namun, majelis hakim menolak upaya keluarga Sisca Yofie dengan alasan seharusnya surat tersebut disampaikan saat sidang masih berlangsung, bukan setelah sidang. "Persidangan ini terbuka dan transparan, seharusnya disampaikan di dalam persidangan. Kami tidak bisa menerima sesuatu di luar persidangan," jelas Parulian Lumban Toruan.

Menanggapi hal tersebut, pihak keluarga tampak kecewa. Kuasa hukum keluarga Sisca Yofie, Hairullah M. Nur, menjelaskan surat itu merupakan catatan dan hasil investigasi keluarga Sisca Yofie. Pihaknya berharap majelis hakim bersedia menerimanya sebagai bahan pertimbangan. Dakwaan jaksa sendiri, menurut dia, masih terpaku pada pengakuan terdakwa yang meragukan. "Pengakuan para pelaku tetap tak rasional," tukas Hairullah M. Nur.

Kuasa hukum, Hairullah M. Nur menuturkan dalam surat yang disertai lampiran tentang fakta dan keterangan kasus Sisca Yofie, ada saksi yang mengaku melihat bahwa Sisca Yofie sebenarnya diseret bukan terseret sepeda motor sebagaimana pengakuan terdakwa.

Ketika puluhan wartawan meminta keterangan dari kuasa hukum keluarga Sisca Yofie, Hairullah M. Nur, di saat mendampingi kuasa hukumnya yang diwawancara wartawan, tiba-tiba salah seorang kakak Sisca Yofie, yakni Elfie, jatuh pingsan. “Ayo, bantu dulu, bantu dulu ini, kasih minum," kata Hairullah M. Nur.

Elfie diboyong langsung ke kursi di ruang sidang untuk ditidurkan dan ditenangkan oleh para keluarganya.

Kemudian setelah itu, Hairullah M. Nur menjelaskan bahwa keluarga meminta agar hakim bisa dipercaya dalam memimpin sidang ini. "Kami memohon kepada majelis hakim agar ini (pendapat kami) bisa dijadikan pertimbangan dalam pemeriksaan dan proses persidangan untuk mengungkap peristiwa dan pelaku yang sebenarnya," tegasnya.

Keluarga almarhumah Sisca Yofie meminta agar mantan kekasih korban, Komisaris Polisi (Kompol) Albertus Eko Budiharto (AEB), diusahakan untuk dihadirkan sebagai saksi dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Bandung. “Saya minta saksi-saksi dalam BAP dan di luar, dihadirkan. Saya berharap JPU juga mendalami kesaksian dari saksi-saksi lain yang melihat langsung (kejadian penjambretan),” jelas kuasa hukum keluarga korban, Hairullah M. Nur, saat ditemui di PN Bandung, Senin (2/12/2013).

Menurut Hairullah M. Nur, banyak saksi yang tidak masuk dalam berita acara pemeriksaan (BAP) sehingga berpeluang tidak dihadirkan sebagai saksi, termasuk Kompol AEB. Pihaknya berharap fakta-fakta yang diberikan dalam bentuk surat dari keluarga almarhumah bisa ditindaklanjuti oleh Jaksa dan majelis hakim. “Saya akan ikuti prosedur dan akan mengikuti sidang ini dari awal sampai vonis nanti,” tegasnya.

Lebih jauh Hairullah M. Nur meyakini, ada aktor intelektual di belakang terdakwa Wawan dan Ade. “Tapi saya dari awal meyakini jika penyidik hanya fokus kepada kedua pelaku ini, tapi tidak kepada bukti dan fakta lain,” sesalnya.

Kasus pembunuhan Sisca Yofie sempat menjadi perhatian banyak pihak, karena kejadiannya terekam kamera CCTV. Saat kejadian, tubuh wanita cantik yang berprofesi sebagai manajer sebuah perusahaan swasta tersebut sempat diseret motor pelaku sejauh sekitar 700 meter dan dibacok. Saat itu, kedua pelaku berniat menjambret tas korban, di depan kontrakannya di Jalan Setra Indah Utara Bandung. Terlebih Sisca Yofie pernah menjalin hubungan asmara dengan anggota polisi, yakni Komisaris Polisi (Kompol) Albertus Eko Budiharto (AEB) seorang perwira kepolisian yang sebelumnya bertugas di Bidang Humas Polda Jawa Barat. Saat itu, status Kompol AEB sudah beristri sah.

Kasus ini kian jadi sorotan banyak pihak ketika ditemukan bukti surat bahwa Sisca Yofie memiliki hubungan asmara dengan seorang perwira polisi di Bandung yang sudah beristri. Terseretnya Kompol AEB pada kasus Sisca Yofie, saat petugas kepolisian menggeledah kamar indekos Sisca Yofie di Setra Indah Utara No.11, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung dan menemukan surat pribadi antara Sisca Yofie dan Kompol AEB.

Hubungan Sisca Yofie dan Kompol Albertus Eko Budiharto sebelumnya diungkap oleh pihak Polrestabes Bandung. Namun, pada gilirannya hubungan Kompol AEB dan Sisca berlangsung sejak 2010 serta berakhir kandas  pada September 2012 lalu. Padahal disaat itu, Kompol Albertus Eko Budiharto sudah berstatus menikah dan memiliki istri yang sah.

Setelah hubungan itu retak dan putus, terungkap yang bersangkutan, Kompol Albertus Eko Budiharto sempat pernah mengirim dua anak buahnya, Bripka AF dan Brigadir FP untuk menguntit Sisca Yofie yang juga dikenai sanksi pelanggaran disiplin. Bripka AF kini berdinas di Satlantas Polres Cimahi dan Brigadir FP berdinas di Dalmas Polrestabes Bandung.  Sebelum kematiannya, Sisca Yofie pernah bercerita pada koleganya kalau dia kerap merasa dibuntuti.

Sebelum menjabat sebagai Kasubbid Penmas, Kompol AEB bertugas di Ditkrimsus Polda Jabar sebagai salah satu kepala unit. Jauh sebelumnya, Kompol AEB juga sempat menjabat sebagai Kasatreskrim Bandung Barat dan Kapolsekta Astanaanyar di Kota Bandung.

Kendati demikian, polisi tidak menemukan fakta yang menghubungkan Kompol AEB dengan kasus ini meski banyak dugaan kasus pencurian dan kekerasan yang dilakukan Wawan alias Awing (39) dan Ade Ismayadi (24) ada yang mendalangi.

Menurut pihak polisi, Kompol Albertus Eko Budiharto tak terlibat kasus ini. Polrestabes Bandung tetap keukeuh (yakin), kasus ini murni kriminal (penjambretan) yang berujung pada kematian korban. Berdasar atas pemeriksaan yang telah dilakukan Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Jabar tidak ditemukan keterlibatan Kompol AEB dalam kasus Sisca Yofie. Saat peristiwa curas berujung tewasnya Sisca Yofie, alibi Kompol AEB adalah dia tengah berada di salah satu hotel di kota Bandung bersama keluarganya.

Mantan Kapolres Bandung Timur, Kombes Pol. Drs. Martinus Sitompul, M.Si. menuturkan sidang disiplin untuk Kompol Albertus Eko Budiharto dilakukan pada Selasa (10/9/2013) lalu dan di situ dirinya bertindak sebagai Atasan Hukum (Ankum), mengingat keduanya berdinas di bagian Humas Polda Jabar. Sidang tersebut dilakukan hanya satu kali. “Sidang disiplin untuk Kompol Albertus Eko Budiharto dilaksanakan pada Selasa (10/9/2013) lalu dan dirinya bertindak sebagai Atasan Hukum (Ankum),” bilang mantan Kapolres Bandung Timur, Kombes Pol. Drs. Martinus Sitompul, M.Si. “Persidangannya cuma satu kali, yakni dari pukul 9.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB,” aku mantan Kapolres Bandung Timur tersebut.

Menurut Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Martinus Sitompul, Kompol Albertus Eko Budiharto terbukti melanggar PP RI No.2 Tahun 2003 mengenai peraturan disiplin anggota Polri. Pasal yang diterapkan tercantum dalam Pasal 3g dan Pasal 5a. “Dalam sidang displin tersebut, Kompol AEB langsung di vonis bersalah karena telah melanggar PP RI Nomor 2 Tahun 2003 mengenai Peraturan Disiplin Anggota Polri,” kata mantan Kapolres Bandung Timur itu. “Untuk Pasal yang diterapkan yakni Pasal 3g dan Pasal 5a,” ujarnya.

Dengan dijatuhkannya vonis itu, maka Kompol Albertus Eko Budiharto mendapat hukuman berupa penundaan pangkat selama satu periode, penundaan pendidikan selama enam bulan, serta penundaan naik gaji berkala. “Sanksinya berupa penundaan pangkat selama satu periode, penundaan pendidikan selama enam bulan, dan penundaan naik gaji berkala,” jelas Kombes Pol. Martinus Sitompul saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (12/9/2013). (tri/ant/viv/oke)

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.504.462 Since: 05.03.13 | 0.2755 sec