Internasional

Aksi Kekerasan Mengguncang Bangkok

Sunday, 01 Desember 2013 | View : 914

BANGKOK-SBN.

Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, terpaksa membatalkan jadwal wawancara dengan media di Biro Polisi Penanggulangan Narkotika di Bangkok, Minggu (1/12/2013), lantaran lokasi tempatnya diwawancarai telah dikepung para demonstran.

Asisten PM Yingluck Shinawatra, Natthriya Thaweevong, mengatakan Yingluck Shinawatra terpaksa diungsikan lantaran massa demonstran mulai masuk ke bagian terluar dari kompleks klub olah raga polisi itu.

Sehari sebelumnya, massa penentang pemerintah telah berkumpul di depan barikade polisi di Wat Benjamabhopit atau lazim disebut Kuil Marmer.

Polisi Thailand menembakkan gas air mata dan semprotan air pada para pengunjuk rasa yang terus berusaha untuk menyerbu gedung-gedung pemerintah demi menggulingkan PM Yingluck Shinawatra. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata demi membubarkan massa yang mencoba mengangkat pagar pembatas. Polisi Thailand menembakkan beberapa kaleng gas air mata serta semprotan air setelah para pengunjuk rasa mencoba untuk menerobos barikade dan memotong kawat berduri yang melindungi Gedung Pemerintahan, yang dijaga secara ketat oleh pasukan keamanan termasuk tentara tak bersenjata, demikian menurut wartawan AFP.

Gas air mata juga ditembakkan pada pengunjuk rasa yang berada dekat markas besar kepolisian metropolitan yang berjarak beberapa kilometer.

Kendati telah diminta oleh PM Yingluck Shinawatra untuk membubarkan diri, mereka tetap berkukuh akan terus berunjuk rasa. “Saya hanya ingin orang-orang yang memiliki nama keluarga Shinawatra segera naik pesawat dan kabur ke suatu tempat, dan tolong, jangan lagi kembali ke negara kami," ujar salah seorang demonstran, Chatuporn Tirawongkusol, yang keluarganya memiliki sebuah restoran.

Para demonstran juga berjalan menuju setasiun-setasiun televisi besar. Di tempat berbeda, stasiun televisi Thai PBS telah berhasil diambil alih para pengunjuk rasa. Lebih dari 250 orang, yang sebagian besar menggunakan kaus hitam, berkumpul di tempat parkir. Produser Eksekutif Thai PBS, Surachai Pannoi, mengatakan manajemennya akan berbagi siaran dengan stasiun televisi Blue Sky yang dikendalikan oleh kelompok oposisi, Partai Demokrat.

Ribuan demonstran anti pemerintah juga telah menggeruduk kantor Telephone Organisation of Thailand (TOT) dan Communications Authority of Thailand (CAT). Dua instansi vital itu, seperti Telkom di Indonesia, bertanggung jawab mengelola layanan telekomunikasi di Thailand.

Gerakan sipil untuk demokrasi ini melumpuhkan seluruh aktivitas di dua BUMN tersebut. Mereka juga berencana meluaskan aksi pendudukan.

Sementara itu, beberapa mal-mal perbelanjaan besar, termasuk salah satu yang pernah dibakar selama kerusuhan politik tahun 2010 lalu, ditutup sebagai tindakan pencegahan.

Sedangkan, sekitar 30.000 pengunjuk rasa melancarkan “kudeta rakyat” terhadap pemerintah Thailand pada Minggu (1/12/2013), mengepung beberapa lembaga negara dalam bentrokan kekerasan, mengambil kendali penyiaran dan memaksa Perdana Menteri melarikan diri menuju kompleks kepolisian.

Sekelompok pengunjuk rasa memaksa Perdana Menteri Yingluck Shinawatra untuk mengungsi ke lokasi yang dirahasiakan dari sebuah bangunan dimana dia berencana  untuk memberikan wawancara pada media, sementara ratusan orang menguasai kendali setasiun penyiaran negara Thai PBS, seraya mengibarkan bendera dan membunyikan peluit.

Massa anti pemerintah lantas mengibarkan bendera dan membunyikan peluit. Mereka mendeklarasikan hari Minggu (1/12/2013) ini sebagai hari kemenangan karena dianggap berhasil melalui pekan panjang dalam upaya menggulingkan Yingluck Shinawatra dan akhir bagi keluarganya.

Keluarga Yingluck Shinawatra telah berkuasa selama lebih dari satu dekade dalam dunia politik Thailand. Pemimpin massa pengunjuk rasa meminta para pendukungnya mengambil alih 10 kantor instansi pemerintahan, enam stasiun televisi, markas kantor polisi, dan kantor PM. Mereka menamakan gerakan tersebut kudeta rakyat. Yingluck Shinawatra memenangi pemilu Thailand pada tahun 2011 silam, dan pada saat yang sama, dia dinobatkan sebagai perempuan pertama yang berhasil menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Thailand.

Kemarahan massa itu dipicu oleh Rancangan Undang-Undang Amnesti Politik yang akan digulirkan oleh pemerintahan PM Yingluck Shinawatra.

Apabila RUU itu diloloskan, kakak Yingluck Shinawatra, mantan PM Thaksin Shinawatra, dapat kembali ke Thailand tanpa harus dipenjara terlebih dahulu.

Publik menilai UU itu akan memuluskan jalan bagi Thaksin Shinawatra kembali ke dunia politik Negeri Gajah Putih. Yingluck Shinawatra dianggap hanya sebagai boneka.

Pasalnya, meski Thaksin Shinawatra mengasingkan diri di suatu tempat, keduanya kerap berkomunikasi. Bahkan, Thaksin Shinawatra dikabarkan ikut terlibat dalam rapat kabinet yang dipimpin Yingluck Shinawatra melalui kamera web.

Demo Thailand yang tak kunjung usai dengan aksi kekerasan di Ibu Kota Bangkok akhirnya telah merenggut korban jiwa dan puluhan luka-luka selama akhir pekan. Unjuk rasa anti pemerintah itu telah memakan korban tewas sebanyak empat orang dan luka-luka 46 orang sejak Sabtu (30/11/2013) hingga Minggu (1/12/2013) dalam protes terhadap pemerintahan Pemerintah Perdana Menteri Yingluck Shinawatra tersebut.

Demonstrasi berdarah pada Sabtu (30/11/2013) kemarin sulit terelakkan. Pertumpahan darah tersebut merupakan yang terbaru dalam serangkaian pecahnya pertikaian sipil di negara kerajaan itu sejak para jenderal pendukung kerajaan menggulingkan taipan miliarder, Thaksin Shinawatra, saudara laki-laki Yingluck Shinawatra pada tujuh tahun silam.

Demonstrasi jalanan itu bertujuan untuk menggantikan pemerintahan Yingluck Shinawatra dengan ‘dewan rakyat’ tak terpilih, adalah yang terbesar sejak protes massa pro-Thaksin pada tiga tahun lalu yang mengakibatkan puluhan orang tewas dalam aksi kekerasan militer.

Kekerasan itu meletus pada Sabtu (30/11/2013) malam waktu setempat di daerah yang berada di sekitar stadion di pinggiran kota dimana puluhan ribu “Kaus Merah” yang propemerintah berkumpul untuk mendukung Yingluck Shinawatra, yang selama beberapa pekan menghadapi protes-protes jalanan.

“Satu orang siswa dan dua pendukung “Kaus Merah” tewas,” demikian menurut Wakil Kepala Polisi Nasional, Worapong Siewpreech kepada AFP. Lebih dari 50 orang terluka. Pihak yang tewas dan terluka tersebut menderita berbagai luka termasuk luka tembakan dan penusukan.

Keadaannya belum jelas tapi aksi kekerasan itu terjadi setelah massa antipemerintah menyerang “Kaus Merah” yang tiba untuk bergabung dengan unjuk rasa di distrik Ramkhamhaeng. Para demonstran anti pemerintah dengan marah menyerang bus para pendukung Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, yang juga ikut turun ke jalan menunjukkan dukungannya. Mereka menghancurkan kaca-kaca jendela bus dan mencegat taksi yang membawa para pendukung Yingluck Shinawatra. Tak hanya itu, segala simbol pemerintahan dicopot paksa.

Mereka adalah korban tewas pertama sejak demonstrasi yang berjalan damai dimulai pada bulan lalu. Kedua belah pihak pun saling menyalahkan terkait penyerangan pada para pendukung mereka.

Polisi mengatakan para pengunjuk rasa setidaknya telah berkumpul di delapan lokasi. Setidaknya, di tiga lokasi dari tempat pengunjuk rasa berkumpul, polisi menggunakan gas air mata dan semprotan air.

Juru Bicara Polisi Nasional Piya Utayo mengatakan tentara tengah dikirim ke kompleks pemerintah yang diduduki oleh para pengunjuk rasa sejak Kamis (28/11/2013) dan Kementerian Keuangan yang diduduki sejak Senin (25/11/2013). “Kami telah mengirim pasukan ke tempat-tempat tersebut untuk kembali mengambil-alih milik pemerintah,” ujarnya di televisi nasional.

Kendati situasi politik di negaranya sudah sangat mencekam, PM Thailand, Yingluck Shinawatra menyatakan sikapnya tidak akan melarikan diri dan akan berusaha menyelesaikan konflik secara damai. Dia mengatakan pula, pihaknya siap melakukan pembicaraan damai dengan semua kolompok anti pemerintah demi terwujudnya perdamaian di Negara Gajah Putih dan memecahkan kebuntuan politik di negara itu.

Yingluck Shinawatra sendiri tak ada pada saat kejadian. Pihak pemerintah membantah adanya rumor bahwa dia telah melarikan diri dari negeri ini namun keberadaannya tidak diketahui. (afp/rtr/ap)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.388.952 Since: 05.03.13 | 0.2118 sec