Internasional

Indonesia Tarik Pesawat Dari Pelatihan Gabungan Elang Ausindo Di Australia

JAKARTA-SBN.

Hubungan Canberra dengan Indonesia juga memburuk belakangan ini menyusul tuduhan penyadapan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2009 oleh Australia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mensyaratkan pembentukan protokol dan kode etik kerja sama Republik Indonesia (RI) dan Australia untuk mengatur hubungan kedua negara di masa depan. Hal itu dilakukan setelah terungkapnya aksi penyadapan intelijen Negeri Kanguru itu terhadap sejumlah pejabat Indonesia. "Bagi saya, ini prasyarat dan sekaligus stepping stone bagi perumusan protokol dan kode etik kerja sama bilateral yang saya usulkan dan sudah disetujui oleh Perdana Menteri (PM) Australia, Tony Abbot," tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (26/11/2013).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan akan menugaskan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa atau seorang utusan khusus untuk membicarakan secara mendalam dan serius isu-isu yang sensitif berkaitan dengan hubungan bilateral Indonesia Australia pasca penyadapan. "Setelah terjadi mutual understanding dan mutual agreement dari kedua belah pihak, saya berharap dilanjuti dengan pembahasan protokol dan kode etik secara lengkap dan mendalam," tandas dia.

Kepala Negara menegaskan akan memeriksa sendiri rumusan protokol dan kode itu, apakah sudah memadai dan memenuhi keinginan Indonesia setelah penyadapan sebelum kemudian disahkan oleh kedua kepala pemerintahan. "Saya ingin pengesahannya dapat dilakukan di hadapan para pemimpin pemerintahan, yang dihadiri oleh saya selaku presiden dan Bapak Tony Abbot sebagai PM," tukas dia.

Lebih lanjut, Presiden SBY meminta agar kedua negara memastikan protokol dan kode etik itu dapat dijalankan sehingga diperlukan obeservasi dan evaluasi. Menurut Presiden SBY, ada keperluan agar protokol dan kode etik itu benar-benar dijalankan agar kepercayaan kedua negara, terutama Indonesia, pulih kembali.

Pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengirim surat kepada PM Australia Tony Abbott untuk meminta penjelasan terkait aksi penyadapan kepada sejumlah pejabat Indonesia, termasuk Presiden, Wakil Presiden Boediono, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan bahkan Ibu Negara Ani Yudhoyono oleh pihak intelijen Australia.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) bahkan menarik lima pesawat tempur F-16 dari pelatihan gabungan Elang Ausindo di Australia sebagai reaksi atas penyadapan pemerintah Australia terhadap telepon sejumlah pejabat Indonesia.

“Kelima pesawat itu sudah tiba di Pangkalan Udara Iswahyudi Magetan, Jawa Timur, Jumat pekan lalu,” papar Komandan Wing III Lanud Iswahyudi Magetan, Kolonel Penerbang Minggit Prabowo, Jumat (29/11/2013) malam. “Penarikan tersebut sebagai salah satu kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pasca penyadapan intelijen Australia terhadap sejumlah pejabat negara termasuk Presiden dan Ibu Negara,” ujarnya, Jumat (29/11/2013) malam.

Elang Ausindo di Australia seharusnya berlangsung hingga 24 November 2013.

Pemerintah Indonesia juga menarik 60 personel TNI-AU yang mengikuti pelatihan gabungan tersebut. Para personel tiba di Lanud Iswahyudi Magetan dengan pesawat Hercules.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, penyadapan yang dilakukan intelijen Australia kepada Kepala Negara Republik Indonesia dan sejumlah pejabat negara tidak dapat dibenarkan. “Penyadapan itu jelas mencederai hubungan bilateral kedua negara,” pungkas Hatta Rajasa di gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, beberapa saat lalu. Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut, Hatta Rajasa yang mengaku terkejut atas tindakan Australia itu meminta penjelasan Australia karena tindakan itu juga disebutnya melukai rakyat Indonesia. (afp/ant)

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.650.491 Since: 05.03.13 | 0.1584 sec