Internasional

PM Australia Jamin KTT G-20 Di Australia Bebas Penyadapan

SYDNEY-SBN.

Perdana Menteri Australia, Tony Abbott berjanji untuk terus terang kepada para pemimpin dunia menjelang Australia menjadi tuan rumah KTT G-20 tahun 2014 nanti.

Tony Abbot mengatakan KTT G-20 yang akan diadakan di Brisbane bulan November tahun 2014 depan akan menjadi pertemuan paling penting para pemimpin dunia yang pernah diadakan Australia dan Canberra akan juga mengundang Singapura dan Selandia Baru untuk hadir. “Fokus kami sebagai Presiden G-20 akan terletak pada pertumbuhan ekonomi yang kuat dibawah kepemimpinan swasta,” ujar Tony Abbott, Sabtu (30/11/2013).

Tony Abbott berjanji untuk berada di depan bersama mitra-mitra internasionalnya, namun menolak mengomentari secara khusus isu penyadapan setelah muncul laporan bahwa Kanada telah membiarkan Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) menguping KTT G-20 dan KTT G-8 di Toronto pada tahun 2010 silam.

“Saya bisa menjamin para pemimpin seluruh dunia yang akan mengunjungi Australia bahwa saya akan sama sekali terus terang kepada mereka, saya tak akan berbicara secara pribadi yang tak saya bicarakan di depan publik,” kata Tony Abbott menjawab pertanyaan mengenai jaminan bahwa Brisbane tak akan mengulangi Toronto. “Di luar itu saya tak mengomentari masalah-masalah intelijen,” tegasnya.

Tuduhan ini disiarkan stasiun penyiaran Kanada CBC yang mengutip bocoran dokumen NSA dari Edward Snowden.

Dokumen bocoran dari Edward Snowden juga kembali membeber aksi penyadapan terhadap Indonesia oleh intelijen asing. Berdasarkan bocoran dari mantan rekanan National Security Agency (NSA) di Amerika Serikat yang kini bersembunyi di Rusia  itu, terungkap bahwa Australia tak beraksi sendirian dalam menyadap Indonesia. Pasalnya, ada peran Singapura dalam penyadapan itu.

Hubungan Canberra dengan Indonesia juga memburuk belakangan ini menyusul tuduhan penyadapan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009 oleh Australia.

Dokumen mantan kontraktor Badan Intelijen Amerika Serikat (NSA), kembali menguak fakta baru. Kali ini yang jadi sasaran tembak adalah Badan Intelijen Korea Selatan (Korsel) dan Singapura.

Sebuah fakta baru terkait penyadapan terhadap Indonesia yang dilakukan di Australia dibeberkan oleh Edward Snowden pada Minggu (24/11/2013) lalu.

Harian Sydney Morning Herald (SMH), Minggu (24/11/2013) melansir, kedua negara itu memainkan peranan penting dalam membantu badan intel AS dan Australia menyadap jaringan telekomunikasi bawah laut di seluruh Asia.

Dalam dokumen itu disebut, AS dan lima mitra setia dalam hal intelijen yang lazim disebut "Lima Mata" (five eyes) menyadap kabel optik fiber berkecepatan tinggi di 20 lokasi di seluruh dunia.

Meski operasi penyadapan itu meski bersifat rahasia, namun disebut operasi penyadapan tersebut turut melibatkan kerjasama dengan pemerintah lokal di negeri yang disadap dan perusahaan telekomunikasi atau melalui operasi lain yang bersifat “diam-diam dan rahasia”. Salah satu cara penyadapan itu melalui kabel bawah laut yang menjadi jalur lalu lintas komunikasi jaringan global. Tingkat penyadapan melalui fiber optik itu bisa melacak siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Operasi intersepsi kabel bawah laut adalah bagian dari jaringan global, yang dalam dokumen perencanaan NSA yang dibocorkan, memungkinkan kemitraan Five Eyes yakni, AS, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru melacak siapapun, di mana pun, kapan saja, dalam apa yang digambarkan sebagai “zaman keemasan” sinyal intelijen.

Operasi penyadapan kabel bawah laut merupakan bagian dari situs global yang tertulis di dalam dokumen milik Edward Snowden, memungkinkan mitra lima mata mampu melacak siapa pun, lokasi di mana pun, dan kapan pun. Dalam dokumen tersebut kemampuan lima mata itu disebut sinyal inteligen masa keemasan.

Harian Belanda, NRC Handelsblad, sejak Minggu (24/11/2013) telah menurunkan tulisan mengenai bocoran dokumen Edward Snowden tersebut lengkap dengan peta penyadapan jaringan telekomunikasi bawah laut milik NSA.

Lewat metode penyadapan satelit ini, intelijen Jepang yang didukung fasilitas NSA di pangkalan Angkatan Udara AS di Misawa, Jepang, memata-matai sejumlah negara di kawasan Asia.

Dari dokumen NSA itu diketahui bahwa AS terus berupaya mempertahankan cengkeramannya terhadap jalur komunikasi lintas Pasifik. Dalam artikel itu dan peta NSA, yang dipublikasikan koran Belanda, NRC Handelsblad Minggu (24/11/2013) malam ditunjukkan bahwa AS memiliki cengkeraman kuat pada saluran komunikasi di kawasan Trans Pasifik. Caranya, dengan membangun sebuah fasilitas penyadapan atau intersepsi di bagian tepi wilayah Pantai Barat Amerika Serikat dan juga di Hawaii serta Guam dengan menyadap lalu lintas kabel komunikasi bawah laut di Samudera Pasifik yang menghubungkan saluran komunikasi antara Australia dan Jepang.

Dengan adanya fasilitas itu, AS disebut dapat menyadap semua arus lalu lintas komunikasi di Samudera Pasifik dan juga jaringan antara Australia dan Jepang.

Peta itu juga mengonfirmasi bahwa Singapura, salah satu pusat komunikasi dunia, menjadi 'pihak ketiga' yang bekerja sama dengan 'Five Eyes'. Dalam peta itu juga dikonfirmasikan peranan Singapura yang merupakan jaringan terpenting dalam telekomunikasi bagi beberapa negara, termasuk Indonesia. Selain itu, Singapura juga disebut merupakan pihak ketiga dan mitra kunci yang bekerja bersama lima badan intelijen tersebut.

Namun tak hanya itu saja. Dokumen NSA itu mengonfirmasi bahwa Singapura menjadi penghubung telekomunikasi paling penting di dunia dan menjadi pihak ketiga yang memegang peranan kunci bagi pekerjaan kemitraan intelijen Five Eyes.

Di bulan Agustus lalu, Fairfax Media melaporkan bahwa badan mata-mata elektronik Australia, Badan Intelijen Australia, Defence Signals Directorate (DSD) bekerja sama dengan telah menjadi mitra bagi intelijen Singapura untuk menyadap kabel SEA-ME-WE-3. Kabel yang tertanam itu tersambung membentang dari Jepang, melintasi melalui Singapura, kemudian Djibouti, menyambung ke Terusan Suez, Selat Gibraltar hingga menuju ke Jerman utara.

Sumber-sumber intelijen Australia di DSD mengatakan kepada Fairfax Media bahwa divisi bidang keamanan dan intelijen yang amat rahasia pada Kementerian Pertahanan Singapura bekerja sama dengan DSD dalam rangka mengakses dan berbagi komunikasi yang berada di dalam kabel SEA-ME-WE3 dan dibawa oleh kabel SEA-ME-WE-3 dan SEA-ME-WE-4 yang membentang dari Singapura ke kawasan selatan Prancis. Mereka juga membagikan komunikasi yang tertanam di dalam kabel SEA-ME-WE-4.

Menurut sumber-sumber di intelijen Australia, lembaga telik sandi di Departemen Pertahanan Singapura telah menjalin kerjasama dengan DSD untuk mengakses dan membagi komunikasi di jaringan kabel SEA-ME-WE-3, seperti halnya operasi serupa terhadap jalur kabel SEA-ME-WE-4 yang menghubungkan negeri pulau di sebelah utara Pulau Batam itu dengan bagian selatan Prancis. Jadi, Kabel SEA-ME-WE3 itu ditanam dari Singapura menuju selatan Prancis.

Untuk bisa mengakses masuk ke dalam kabel tersebut, dokumen itu menyebut dibutuhkan bantuan dari Perusahaan milik pemerintah, SingTel. Akses bagi ke sebagian besar saluran telekomunikasi international difasilitasi oleh operator telekomunikasi milik pemerintah Negeri Singa, SingTel, perusahaan milik pemerintah Singapura. Perusahaan tersebut disebut telah menjadi elemen kunci penting dalam perluasan operasi intelijen dan pertahanan Australia dengan Singapura dan bagi ekspansi kemitraan hubungan intelijen dan pertahanan Australia dan Singapura dalam 15 tahun terakhir ini.

Operasi tersebut telah berlangsung selama lebih dari 15 tahun terakhir. Dengan pemilik secara mayoritas saham SingTel yaitu saham mayoritas yang dimiliki perusahaan Temasek Holdings, sebuah BUMN milik pemerintah Singapura. Sementara SingTel sendiri sudah diketahui sejak lama memang memiliki hubungan dekat dengan Agen Intel Singapura. SingTel menjalin hubungan erat dengan telik sandi di negeri yang kini dipimpin Lee Hsien Loong itu.

Duduk dalam Dewan Direksi perusahaan tersebut yakni Peter Ong yang menjabat sebagai Kepala Pelayanan Sipil Singapura. Di jajaran petinggi SingTel, pemerintah Singapura diwakili oleh Peter Ong yang sebelumnya dipercaya sebagai pejabat yang mengurus dan bertanggung jawab terhadap keamanan nasional dan koordinasi intelijen di kantor Perdana Menteri Singapura.

Menurut ahli intelijen Australia dari Universitas Nasional Australia (ANU), Profesor Des Ball, kemampuan sinyal intelijen Singapura sebagai yang terkuat di kawasan Asia Tenggara. Pengamat intelijen di Australia National University (ANU), Profesor Des Ball menggambarkan kemampuan intelijen elektronik Singapura sebagai yang paling mahir di kawasan Asia Tenggara. Pengamat intelijen di Australia National University (ANU), Profesor Des Ball bahkan menyebut kedekatan di antara intel Singapura dan Australia sudah terjalin sejak tahun 1970an. Profesor Des Ball mendeskripsikan, sinyal intelijen Singapura "mungkin yang paling maju" di Asia Tenggara, setelah Intelijen elektonik di Singapura pertama kali dikembangkan dalam rangka kerjasama dengan Australia pada pertengahan 1970-an dan kemudian memanfaatkan posisi Singapura sebagai pusat telekomunikasi regional.

Hal itu terungkap ketika Direktur Badan Intelijen Australia (ASIO), David Irvine, mengatakan kepada Pengadilan Federal, bahwa agen intel Korsel dan Negeri Kanguru telah bekerja sama selama 30 tahun. Saat itu David Irvine berusaha agar dokumen mengenai kerjasama itu tidak bocor ke publik, karena dianggap dapat membahayakan kepentingan nasonal Australia.

Informasi terbaru yang terkuak ke publik termasuk keterlibatan Australia dan Selandia Baru dalam penyadapan satelit komunikasi global.

Seperti dikabarkan The Age, Senin (25/11/2013), peta rahasia Badan Keamanan AS (NSA) mengungkap AS dan partner berbagi intelijennya atau yang dikenal dengan 'Five Eyes', menyadap kabel serat optik berkecepatan tinggi di 20 lokasi di seluruh dunia. Dokumen NSA itu menunjukkan bahwa AS menjalin kemitraan intelijen yang disebut "Five Eyes" untuk menyadap fiber optik berkecepatan tinggi di 20 lokasi di seluruh dunia. Five Eyes beranggotakan AS, Inggris, Kanada, Australia dan Selandia Baru.

Harian The Age di Australia edisi Senin (25/11/2013) yang mengutip pemberitaan tentang bocoran terbaru Snowden yang dilansir koran Belanda, NRC Handelsblad, mengungkapkan bahwa intelijen Australia dan Singapura sudah bekerjasama sejak tahun 1970-an untuk menyadap komunikasi di Indonesia. Berdasar dokumen Edward Snowden itu, Singapura dan Korea Selatan adalah mitra penting bagi AS dan Australia untuk menyadap berbagai telekomunikasi di Asia. Selain Singapura, ada juga keterlibatan Selandia Baru dalam mengintersep satelit komunikasi.

Lewat publikasi sebuah koran terbitan Belanda, NRC Handelsblad, edisi Minggu (24/11/2013), terbit artikel yang menyebut bahwa badan intelijen Korea Selatan (Korsel), Jepang, dan Singapura ikut membantu Australia dan AS, memata-matai Indonesia.

Kedua negara tersebut melakukan penyadapan melalui jaringan telekomunikasi kabel optik bawah laut di seluruh Asia. Fakta itu dibeberkan secara lengkap dengan peta laut milik NSA yang berhasil diambil Edward Snowden.

Tak tanggung-tanggung, Edward Snowden juga mengungkapkan bahwa NSA memiliki kemampuan mencegat komunikasi melalui satelit. Kemampuan NSA disebut juga sanggup mencegat komunikasi melalui satelit.

Peta rahasia NSA yang dibocorkan juga menujukkan, Korea Selatan adalah titik kunci intersepsi di mana kabel di Pusan menyediakan akses ke komunikasi internal China, Hong Kong, dan Taiwan.

Badan Intelijen Korsel selama ini diduga menjadi kolaborator bagi Badan Pusat Intelijen AS (US Central Intelligence Agency), NSA, juga Badan Intelijen Australia.

Kali ini, Edward Snowden membocor dokumen rahasianya melalui koran terbitan Brasil, O Globo. Peta NSA dan dokumen lain yang dibocorkan oleh Edward Snowden dan diterbitkan oleh surat kabar Brasil O Globo juga mengungkapkan detail baru pada integrasi fasilitas penyadapan sinyal intelijen Five Eyes di Australia dan Selandia Baru. Dokumen Edward Snowden yang diungkap harian Brasil, O Globo menyebut Australia bersama keempat rekan lima matanya kerap melakukan operasi itu.

Dan untuk kali pertamanya yang diungkap, fasilitas operasi penyadapan satelit DSD yaitu fasilitas spionase DSD yang berada di Kojarena dekat Geraldton di Australia bagian Barat. Dalam operasi intelijen, fasilitas tersebut disebut dengan kode STELLAR.

Sementara Pemerintah Selandia Baru membangun fasilitas serupa, biro keamanan komunikasi di Waihopai di bagian selatan kepulauan Selandia Baru. Untuk fasilitas ini diberi kode nama IRONAND. Namun, di dalam dokumen itu, tidak diungkap dan tidak diidentifikasi nama kode untuk fasilitas DSD yang berada di Shoal Bay, dekat dengan Darwin.

Untuk menyamarkan operasi tersebut, ketiga fasilitas itu terdaftar oleh NSA sebagai fasilitas primer pengumpulan satelit komunikasi asing disebut NSA, FORNSAT atau komunikasi satelit asing.

Pemantauan komunikasi satelit di seluruh Asia dan Timur Tengah juga didukung fasilitas NSA di pangkalan Angkatan Udara AS di Misawa, Jepang, fasilitas diplomatik AS di Thailand dan India. Fasilitas Government Communications Headquarters (GCHQ) Inggris di Oman, Nairobi Kenya, dan pangkalan militer Inggris di Siprus. Agen intel Inggris (GCHQ), juga memiliki fasilitas serupa di misi diplomatiknya yang terletak di Oman, Kenya dan Siprus.

Dalam bocoran peta itu turut ditunjukkan NSA, kabel bawah laut yang diakses NSA dan GCHQ melalui fasilitas militer di Djibouti dan Oman.

Fungsinya untuk memastikan jangkauan pemantauan maksimum terhadap penyadapan komunikasi di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.

Lantas bagaimana posisi Indonesia? Terungkap bahwa Indonesia dan Malaysia telah menjadi target utama bagi operasi penyadapan hasil kerjasama Australia dan Singapura. Indonesia dan Malaysia disebut-sebut sebagai target kunci kerja sama intelijen Australia dan Singapura sejak 1970-an. Banyak rute lalu lintas telekomunikasi dan internet dua negara melewati Singapura. Sampai saat ini, sebagian besar jalur telekomunikasi dan internet di Indonesia melalui Singapura.

Sebelumnya, dari dokumen Directorate Signal Defense (DSD) Australia juga terungkap bahwa upaya penyadapan terhadap petinggi di Indonesia dengan menggandeng operator seluler. Kerjasama dengan operator seluler itu dalam rangka mendapatkan data komunikasi. Karenanya, DSD memiliki call data record (CDR) pembicaraan terlepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Disebutkan bahwa operator seluler di Indonesia yang disebut dalam dokumen DSD adalah Indosat, Telkomsel, Excelcomindo dan Hutchinson 3. DSD dikabarkan mendapatkan data baik secara sukarela maupun dengan tekanan.

Dari dokumen NSA itu juga diketahui bahwa Korea Selatan memegang peran kunci dalam aksi penyadapan terhadap lalu lintas komunikasi di China, Hong Kong dan Taiwan.  Lembaga intelijen Korsel juga sudah lama menjadi antek bagi CIA dan NSA sebagaimana intelijen Australia. (afp)

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.645.836 Since: 05.03.13 | 0.18 sec