Internasional

Surat Jawaban PM Australia Berisi Tiga Poin Penting

CANBERRA-SBN.

Pekan lalu, Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Susilo Bambang Yudhoyono mengirim surat kepada Perdana Menteri (PM) Australia, Tony Abbott untuk meminta penjelasan terkait aksi penyadapan kepada sejumlah pejabat Indonesia, termasuk Presiden, Wakil Presiden Boediono, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan bahkan Ibu Negara Ani Yudhoyono oleh pihak intelijen Australia.

Partai Buruh Australia mengkhawatirkan belum adanya balasan dari Indonesia sejak Perdana Menteri Australia Tony Abbott memberikan surat balasan untuk memperbaiki hubungan yang memburuk akibat terungkapnya penyadapan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara, pekan lalu.

Balasan surat PM Australia Tony Abbott sudah disampaikan kepada SBY, Kamis pekan lalu, menyusul sejumlah pemutusan kerja sama Indonesia-Australia.

Namun, Sekretaris Parlemen Simon Birmingham dari Partai Liberal Tony Abbott menepis kekhawatiran tersebut. “Kami sudah memperkirakan Indonesia akan menggunakan waktunya, dan merespons dengan pertimbangan saksama, itu yang terjadi,” jelas Simon Birmingham kepada stasiun televisi Sky News, Selasa (26/11/2013).

Simon Birmingham mengatakan, Tony Abbott telah meminta mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Australia, Letnan Jenderal Peter Leahy, untuk memberikan balasan surat itu langsung kepada pemerintah Indonesia.

Juru bicara Tony Abbott mengatakan, Perdana Menteri merasa sangat tepat jika surat disampaikan dengan penghormatan yang penuh, mengingat pentingnya masalah yang dibahas dan penghormatan bagi Presiden SBY.

Namun, anggota Partai Buruh lainnya, Brendan O'Connor, mengatakan tidak penting bagaimana pesan itu dikirim sepanjang segala upaya terbaik telah dilakukan untuk memperbaiki hubungan.

Brendan O’Connor menyebutkan jika semuanya berlangsung baik, SBY seharusnya sudah menelepon  Tony Abbott. "Faktanya, perlu waktu lama bagi Indonesia untuk merespons. Dan ini yang mengkhawatirkan,” katanya kepada Sky News. “Jelas hal ini menunjukkan mereka kecewa dengan respons pemerintah hingga saat ini,” paparnya lagi.

Brendan O’Connor menuturkan hubungan Australia-Indonesia mengalami kemunduran sejak pemilihan umum September lalu. Sebab, pemerintah Tony Abbott gagal merespons dengan tepat dan cepat atas meningkatnya krisis diplomatik.

Pernyataan Brendan O'Connor langsung dikecam Simon Birmingham yang menuduh Partai Buruh mengelak dari komitmen mereka untuk mendukung upaya pemerintah memperbaiki hubungan dengan Indonesia. “Jika mereka hanya melempar kawat berduri, itu bukanlah menganggap serius hubungan dengan Indonesia, itu hanya oportunis semata,” ketusnya.

Pada Sabtu (23/11/2013) pekan lalu, PM Australia menyampaikan surat jawabannya, yang menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berisi tiga hal penting. Pertama, keinginan Australia untuk menjaga dan melanjutkan hubungan bilateral kedua negara yang sesungguhnya dewasa ini berada dalam keadaan yang kuat dan berkembang.

Kedua, komitmen PM Australia bahwa Australia tidak akan melakukan sesuatu di masa depan yang akan merugikan dan mengganggu Indonesia. "Itu satu poin yang penting," kata Kepala Negara merujuk pada poin kedua tersebut.

Ketiga, tambah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, PM Australia setuju dan mendukung usulan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menata kembali kerja sama bilateral, termasuk pertukaran intelijen, dengan menyusun protokol dan kode etik yang jelas, yang adil, dan yang dipatuhi.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara khusus membahas isi surat balasan yang dikirim PM Australia, Tony Abbot, terkait penyadapan yang dilakukan oleh intelijen Australia terhadap Presiden dan jajaran pemerintah lainnya. Pembahasan bertujuan agar dalam mengambil langkah-langkah ke depan saat menjalin hubungan antara Indonesia dan Australia berjalan lancar tanpa ada aktivitas penyadapan di kemudian hari. Langkah yang dimaksud adalah adanya saling percaya di antara dua negara.

"Agar apa yang terjadi beberapa saat yang lalu tidak terulang kembali, maka langkah-langkah ke depan itu harus diawali adanya saling percaya antara Indonesia dan Australia dan terlebih Indonesia terhadap Australia atas terjadinya penyadapan terhadap pemimpin dan pejabat Indonesia," tutur Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sementara itu, Juru Bicara Kepresidenan, Julian Adrian Pasha mengungkapkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menerima dan membaca surat balasan dari PM Tony Abbot.

Menurut Julian Adrian Pasha, isi surat balasan cukup memuaskan dan sesuai harapan. "Seperti yang kita harapkan tentunya. Saya tentu tidak dalam kapasitas untuk memberikan informasi mengenai isi surat Abbott. Namun, jawaban dari Abbot tentu sesuai dengan yang kita harapkan," beber Juru Bicara Kepresidenan Julian Adrian Pasha.

Selanjutnya, saat disinggung mengenai informasi penyadapan yang dilakukan Singapura dan Korsel, Julian Adrian Pasha belum mengetahui persis. "Itu juga kami baru dengar. Kami belum mendapatkan klarifikasi atau informasi yang lebih akurat mengenai hal itu. Kami juga mendengarnya dari media massa. Nanti kita sama-sama pelajari lah mengenai apa yang kita dengar dari berita tersebut," tandas dia.

Seperti dikabarkan sebelumnya, dua negara sahabat Indonesia, Singapura dan Korea Selatan (Korsel), disebut-sebut memainkan peran kunci membantu Amerika Serikat dan Australia dalam menyadap jaringan telekomunikasi di seluruh Asia. Demikian menurut dokumen rahasia yang dibocorkan mantan kontraktor intelijen AS, Edward Snowden.

Kabel SEA-ME-WE3 itu ditanam dari Singapura menuju selatan Prancis. Untuk bisa mengakses masuk ke dalam kabel tersebut, dokumen itu menyebut dibutuhkan bantuan dari Perusahaan milik pemerintah, SingTel. Perusahaan tersebut disebut telah menjadi elemen kunci dalam perluasan operasi intelijen dan pertahanan Australia dengan Singapura.

Operasi tersebut telah berlangsung selama 15 tahun terakhir. Pemilik mayoritas saham SingTel yaitu perusahaan Temasek Holdings. Sementara SingTel sendiri sudah diketahui sejak lama memang memiliki hubungan dekat dengan Agen Intel Singapura.

Duduk dalam Dewan Direksi perusahaan tersebut yakni Peter Ong yang menjabat sebagai Kepala Pelayanan Sipil Singapura. Peter Ong sebelumnya bertanggung jawab terhadap keamanan nasional dan koordinasi intelijen kantor Perdana Menteri Singapura.

Sementara itu, intel Negeri Ginseng turut berada di dalam peta dokumen milik NSA. Korsel memainkan peranan sebagai titik kunci untuk menyadap telekomunikasi yang melintas melalui China, HongKong, dan Taiwan. Badan Intelijen Korsel (NIS) diketahui juga sudah lama bekerja sama dengan CIA, National Security Agency atau Badan Intelijen Amerika Serikat (NSA), dan Directorate Signal Defense atau Badan Intel Australia (DSD).

Selain dibantu Korsel dan Singapura, Negeri Sakura disebut turut membantu aksi penyadapan itu. Jepang ikut mendukung aksi spionase AS dan Australia, karena Negeri Paman Sam memiliki fasilitas penyadapan di pangkalan udara di Misawa. Jaringan penyadapan itu kemudian diperluas dengan membangun fasilitas serupa di misi diplomatik AS di Thailand dan India. (tem/ant/jpnn)

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.645.895 Since: 05.03.13 | 0.1764 sec