Nasional

Wapres Tepati Janji Gelar Jumpa Pers

JAKARTA-SBN.

Wakil Presiden, Prof. DR. H. Boediono, M.Ec. sebelumnya mantan Gubernur Bank Indonesia (BI)  akhirnya menepati janjinya menggelar jumpa pers.

Sekitar pukul 19.30 WIB jumpa pers pun mulai digelar. Keterangan pers ini menjawab pertanyaan terkait kebenaran pemeriksaan Wapres Boediono oleh penyidik KPK.

Wapres Boediono yang malam itu mengenakan kemeja putih itu terlihat tenang saat menyampaikan keterangan pers yang sudah ditunggu-tunggu sejak Sabtu pagi itu. Namun ia enggan memberi banyak pernyataan.

Wapres Boediono mengaku diperiksa sejak Sabtu (23/11/2013) pukul 10.00 WIB sebagai saksi kasus bailout Bank Century.

Mantan Gubernur Bank Indonesia, Boediono membenarkan terkait pemeriksaan dirinya oleh penyidik di KPK.

Boediono menjelaskan alasan pemeriksaan dirinya di kantornya, kantor Wapres Jakarta, Sabtu (23/11/2013) lalu. Menurutnya, hal itu karena alasan protokoler.

Apa yang dilakukan saat menjabat Gubernur BI bagian dari kehormatan. Bagi Boediono, menyelamatkan Bank Century adalah tugas mulia menyelamatkan Indonesia dari risiko krisis moneter global, karena diyakini Bank Century akan berdampak domino atau berdampak sistemik.

Bahkan Boediono mengaku sudah melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya pada saat itu. "Saya telah melakukan tanggung jawab pada waku itu sebagai Gubernur BI (Bank Indonesia) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebaik-baiknya," tegasnya.

Selain itu, Wapres Boediono juga menjawab pertanyaan terkait pembengkakan bailout atau dana talangan dari Rp 600 miliar menjadi Rp 6,7 triliun. Namun Boediono hanya menjawab diplomatis.

Boediono tidak menjelaskan secara detil mengapa dana talangan itu mengalami pembengkakan sebesar itu. Menurutnya, apa yang dilakukan itu sudah sesuai dengan prosedur. Bailout sebesar Rp 6,7 triliun itu dilakukan karena kondisi perekonomian memang tengah krisis.

Yang jelas, dia menyebut persoalan itu menjadi urusan antara Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan pengawas Bank Century yang kini bernama Bank Mutiara. "Setelah itu yang terjadi antara LPS dan pengawas bank. Saya kira di situlah kalau mencari jawaban yang tepat apa yang terjadi, ya antara pengawas bank yang sekarang namanya Bank Mutiara dan LPS," tutur Boediono.

Pada kesempatan ini Wapres Boediono juga mengaku siap mendukung KPK sepenuhnya dalam mengungkap kasus bailout Bank Century.

Pakar Komunikasi Politik, Heri Budianto menilai kurang tepat Wakil Presiden, Boediono menjelaskan perihal pemeriksaan dirinya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan memakai podium kenegaraan di kantor Wapres. "Kantor Wapres dan podium itu merupakan representasi simbol negara. Itu untuk melaksanakan tugas-tugas kenegaraan," ungkap Direktur Political Communication Institute ini, Minggu (24/11/2013). Memang, imbuhnya, di awal konferensi pers-nya Boediono menyampaikan bahwa penggunaan kantor wapres semata-mata untuk memudahkan protokeler.

Namun, menurut dosen Universitas Mercu Buana ini, bahwa alasan protokoler tidak cukup kuat untuk menggunakan alasan penggunaan fasilitas negara tersebut.

Pakar komunikasi politik Universitas Mercu Buana Heri Budianto memprediksi skandal Bank Century bakal kembali memanas menjelang akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Boediono.

Pakar komunikasi politik Universitas Mercu Buana Heri Budianto menilai, pemeriksaan Boediono memasuki babak baru pertarungan politik skandal Bank Century.

Posisi Boediono selaku wapres menjadi sasaran empuk serangan-serangan politik. Kepentingan politik status Boediono sangat dinantikan banyak pihak, termasuk elite politik tertentu.

Pemeriksaan Boediono ditengarai akan diwarnai nuansa politik. Maka itu KPK harus benar-benar bekerja profesional agar penuntasan kasus ini lebih fokus tanpa campur tangan pihak manapun. KPK sendiri baru akan memberikan keterangan pada Senin (25/11/2013) besok.

Seperti diketahui persoalan skandal Century yang sekarang tengah dihadapi Boediono adalah tanggungjawabnya ketika menjadi Gubernur BI. Karena itu, pemeriksaan oleh KPK yang dijalani oleh Boediono lebih kepada persoalan pribadi sebagai mantan Gubernur BI.

Anggota Timwas Century Fahri Hamzah menilai ada diskriminasi dalam pemeriksaan Boediono terkait kasus Bank Century. Boediono diketahui diperiksa penyidik KPK selama 8 jam di kantor wakil presiden RI.

Fahri Hamzah yakin KPK memiliki argumen serta publik yang percaya sehingga tidak akan mempersoalkan pemeriksaan tersebut. "Kedua, KPK sudah sering berbeda, Yulianis diperiksa di hotel mewah, tapi ketua dan anggota DPR RI dan pengurus partai mondar-mandir mandir saja ke Kuningan (kantor KPK), menteri keuangan, dan Gubernur BI Agus Martowardojo ke KPK sementara pegawai bank Dunia Sri Mulyani didatangi ke Amerika," tukas Fahri Hamzah ketika dikonfirmasi, Senin (25/11/2013).

Apalagi, sambung Fahri Hamzah, Sekjen PKS Taufiq Ridho yang tidak mengetahui apa-apa soal kasus Luthfi Hasan Ishaaq ikut dipanggil KPK. "Sementara Sekjen Partai Demokrat yang dituduh terima uang dibiarin," ungkap Wasekjen PKS itu.

Wasekjen PKS tersebut, Fahri Hamzah menuturkan pemeriksaan Boediono oleh KPK tidak bisa dihindari meskipun lembaga tersebut merasa tidak berwenang.  Tetapi, lanjut Fahri Hamzah, kasus itu pasti menyentuh Boediono. "Maka kalau KPK sebagai extraordinary body mustahil tidak bisa periksa dan proses Boediono sampai batas kewenangan pengumpulan alat bukti," ketus dia lagi.

Fahri Hamzah menegaskan KPK tidak boleh membuat diskriminasi apapun terhadap Boediono dalam pengumpulan alat bukti. Tapi KPK bisa menyatakan kepada DPR RI bahwa status Boediono sudah masuk tahap penyidikan tapi lembaga itu tidak bisa meneruskan. "Itulah yang ditunggu oleh DPR sekarang. Jika tidak, maka pengistimewaan dalam pemeriksaan ini bisa jadi awal bagi kecurigaan bahwa KPK melakukannya untuk melindungi Budiono dalam kasus ini," cetus Fahri Hamzah.

Bambang Soesatyo, Anggota Timwas Century DPR RI mengatakan kalau mengambil kebijakan dengan hati bersih tentu tidak akan menjadi temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).

Selain itu kata Politisi Golkar ini, kalau itu suatu kehormatan, tentu data yang disajikan bukanlah data akal-akalan atau tipu muslihat. Sampai-sampai Menteri Keuangan Sri Mulyani selaku ketua KSSK saat itu sangat marah karena apa yang disajikan padanya tidak akurat. Sehingga Sri Mulyani mempertanyakan bagaimana ceritanya keputusan yang ditandatanganinya dari Rp 632 miliar, tiba-tiba dalam waktu dua hari yakni Sabtu dan Minggu membengkak pada hari Seninnya menjadi Rp 2,5 triliun dan pada akhirnya dalam hitungan bulan menjadi Rp 6,7 triliun. “Apa yang disampaikan Boediono dalam jumpa pers nya di Istana Wapres (Sabtu 23/11/2013), sangat bertolak belakang dengan fakta dan perbuatannya saat proses pengambilan keputusan itu," tegas politisi Golkar ini, Bambang Soesatyo, Minggu (24/11/2013).

Karena itu, anggota Komisi III DPR RI ini yakin masyarakat tidak bodoh dan terkecoh. Karena bukti dan fakta termasuk seluruh rekaman, notulen, akta notaris serta Surat yang janggal dan dokumen-dokumen dalam proses FPJP dan Bailout itu sudah beredar di ruang publik.

"Kemudian, bagaimana kita mejelaskan keterangan (Mantan Wapres) Jusuf Kalla (JK) selaku pelaksana tugas presiden ketika itu tidak dilaporkan dan bahkan terkesan seperti operasi senyap," lanjutnya.

Lalu, imbuhnya bagaimana menjelaskan keterangan Sri Mulyani kepada JK bahwa dirinya tertipu oleh BI. Belum lagi penjelasan Robert Tantular bahwa pihaknya tidak pernah mengajukan FPJP dan minta dibailout atau diambil alih. Karena sudah ada negosiasi dengan pihak ketiga dan kebutuhan banknya hanya Rp 1 triliun.

"Bagaimana juga dengan laporan Sri Mulyani dalam tiga suratnya kepada presiden SBY menjelaskan posisinya dalam pengambilan kebijakan bailout bank Century yang janggal itu," tandasnya.

"Masih banyak pertanyaan yang bisa menggugurkan alasan berdampak sistemik yg disampaikan Boediono mengingat bank tersebut berskala kecil dan pinjaman antar banknya pun hanya 0,03%,” imbuhnya. (tri/lip6)

See Also

Banjir Yang Melanda Di Demak, Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Prajurit Kodim 0716/Demak Menyerbu Desa Sayung
Al Mawaddah Gelar Hypno Motivasi Untuk Mengisi Liburan Sekolah
Seleksi Program Magang Ke Jepang, PPMKP Adakan Pelatihan Petani Muda Di P4S Al Mawaddah
Demi Meriahkan Penutupan TMMD Grup Seni Kentongan Berlatih Hingga Larut Malam
Agar Lebih Dekat Dengan Warga, Satgas TMMD Juga Ikut Ronda Malam
Arswendo Atmowiloto Meninggal Dunia
Ini Talud TMMD Versi Tentara Kodim 0716/Demak
Jalan TMMD Akan Buka Jalur Alternatif Sumberejo
Ketika Para Santri Ikut Bekerja Di Lokasi TMMD
Senang Bisa Bekerja Dengan Pak Tentara
Luangkan Waktu Cek Lokasi TMMD
Terus Didengungkan TMMD Kalikondang Ke Seantero Demak
Tiada Hari Tanpa Sosialisasi TMMD
Progres Pekerjaan Talud TMMD Menggembirakan
Galang Kekuatan Kaum Muda Untuk Sukseskan TMMD Kalikondang
Sortir Material TMMD Dilakukan Sejak Dari Toko
Sudah Tersusun Jadwal Kerja Bhakti Warga Di TMMD
Terima Kasih Sejumlah RTLH Warga Saya Sudah Mulai Dibangun TNI
Terus Dipoles Lapangan Untuk Upacara Pembukaan TMMD
Ajari Anak-Anak Di Desa TMMD Tentang Kebersihan Lingkungan
Permudah Media Akses Berita, Dirikan Posko Penerangan Di Lokasi TMMD
Balai Desa Kalikondang Disiapkan Sebagai Poskotis TMMD Reguler Ke-105
Sosok Tenaga Teknis Yang Akan Menyukseskan TMMD
Maturnuwun Pak Tentara, Jalan Beton Ini Sudah Ditunggu Warga
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.785.036 Since: 05.03.13 | 0.1672 sec