Hukum

KPK Periksa Kepala SKK Migas

Friday, 22 Nopember 2013 | View : 817

JAKARTA-SBN.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK) Migas Johannes Widjonarko kembali mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tidak ada pernyataan apapun yang disampaikan Johannes Widjonarko saat masuk ke dalam kantor pimpinan Abraham Samad itu.

Johannes Widjonarko tiba di Gedung KPK, Jakarta, sekitar pukul 10.00 WIB, Jumat (22/11/2013). Johannes Widjonarko yang tiba dengan mengenakan kemeja putih dan bercelana hitam itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia langsung ke masuk ke dalam lobi gedung untuk mengisi administrasi tamu.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK) Migas Johannes Widjonarko menjalani pemeriksaan selama sekitar 2,5 jam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (22/11/2013).

Pemeriksaan Johannes Widjonarko bukan terkait kasus suap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.)., melainkan kasus pencucian uang.

Johannes Widjonarko diperiksa sebagai saksi untuk mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.). dan pelatih golf Rudi Rubiandini, Deviardi alias Ardi dalam kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menjerat keduanya.

Usai diperiksa selama sekitar 2,5 jam, Johannes Widjonarko mengaku diperiksa sebagai saksi untuk perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dijeratkan KPK kepada Rudi Rubiandini dan pelatih golf-nya Deviardi alias Ardi. Namun, ia menolak berkomentar soal materi yang ditanyakan penyidik. “Saya sudah menjalani pemeriksaan sebagai saksi untuk R.R. (Rudi Rubiandini) dan D (Deviardi) terkait tindak pidana pencucian uang,” papar Johannes Widjonarko usai diperiksa di Gedung KPK, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2013).

Kepala Bagian Informasi dan Pemberitaan KPK, Priharsa Nugraha membenarkan Johannes Widjonarko diperiksa sebagai saksi. "Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi," beber Priharsa Nugraha.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Johannes Widjonarko, mengaku dicecar pertanyaan terkait uang sejumlah SIN$ 600 ribu yang diberikan kepada mantan atasannya, Rudi Rubiandini dari seseorang, ketika diperiksa KPK. “Sudah, semua sudah saya jelaskan ke penyidik. Saya sudah menjalani pemeriksaan untuk RR (Rudi Rubiandini) dan D (Deviardi) terkait tindak pidana pencucian uang," beber Johannes Widjanarko di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (22/11/2013). Hal itu ia sampaikan seusai diperiksa KPK selama sekitar hampir 2,5 jam sebagai saksi dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di lingkungan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dengan tersangka mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.)., dan pelatih golf pribadinya, Deviardi alias Ardi.

Dalam salah satu keterangan berita acara pemeriksaan (BAP), disebutkan Deviardi alias Ardi mengaku pernah menerima uang sebesar SIN$ 600 ribu atau setara Rp 5,6 miliar dari Johannes Widjonarko. Saat itu, jabatan Johannes Widjonarko masih sebagai Wakil Kepala SKK Migas.

Dalam dokumen yang diterima, Deviardi pernah diberi perintah oleh Rudi Rubiandini untuk mengambil uang dari Johannes Widjonarko, yang saat itu masih menjabat Wakil Kepala SKK Migas.

Pada peristiwa yang terjadi pada Februari 2013 itu, Deviardi menyambangi kantor Johannes Widjanarko sekitar pukul 10.00 WIB. Namun ternyata, di sana sudah ada orang lain yang kemudian dikenalkan oleh Johannes Widjanarko.

Orang tersebut ternyata membawa titipan uang untuk Rudi Rubiandini yang diberikan lewat Deviardi. Setelah berkenalan, Deviardi dan orang tersebut membuat kesepakatan untuk bertemu di Rumah makan Ayam Goreng Suharti lalu orang tersebut memberikan Deviardi sebuah amplop cokelat.

Dalam BAP itu, uang selanjutnya diberikan Deviardi alias Ardi ke Rudi Rubiandini. Deviardi alias Ardi mengaku uang dari Johannes Widjonarko merupakan pemberian dari pengusaha yang merupakan pemain minyak.

Kemudian pada pukul 19.30 WIB, Deviardi bertemu dengan Rudi Rubiandini untuk menyerahkan amplop cokelat tersebut. Lalu Rudi Rubiandini membuka amplop itu yang ternyata didalamnya ada enam amplop putih. Setelah itu Rudi Rubiandini mengambil satu amplop putih dan membukanya, didalamnya terdapat SIN$ 100 ribu. Rudi Rubiandini memerintahkan Deviardi untuk sementara memegang uang tersebut.

Terkait merebaknya informasi dari sebuah dokumen mengenai adanya pemberian uang dari dirinya ke Rudi Rubiandini, Johannes Widjonarko tidak memberikan jawaban terperinci. Saat hal tersebut dikonfirmasi, Johannes Widjonarko yang datang ke KPK mengenakan kemeja putih enggan menjelaskan. Johannes Widjonarko enggan mengungkapkan siapa seseorang yang diduga memberikan uang tersebut.

Meski demikian, Johannes Widjonarko enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai materi pemeriksaannya. Dia hanya mengatakan sudah menjelaskan semuanya ke penyidik KPK. “Sudah, sudah. Semuanya sudah saya jelaskan ke penyidik,” tandas Johannes Widjonarko.

Apakah jawaban itu berarti klarifikasi terhadap adanya informasi tersebut? Johannes Widjonarko tetap mengatakan bahwa dirinya telah memberikan keterangan kepada penyidik. Didesak dari mana uang tersebut, apakah dari pengusaha, Johannes Widjonarko mengatakan tidak. “Enggak, saya sudah memberikan keterangan ke penyidik KPK. Saya jadi saksi untuk Rudi Rubiandini dan Devi Ardi terkait tindak pidana pencucian uang," tukas Johannes Widjonarko sesaat keluar dari lobi Gedung KPK, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2013).

Johannes Widjonarko yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala SKK Migas ini hanya terus berjalan dan kemudian meninggalkan Gedung KPK dengan menggunakan Toyota Kijang Innova hitam B 1182 KFW.

Adapun Deviardi melalui kuasa hukumnya, Effendi Saman, belum bisa mengungkapkan tentang keabsahan dokumen tersebut. "Sederhananya begini, kalau pun itu benar, kalau pun itu benar pasti atas perintah Rudi. Dia (Deviardi) kan kurir, dia nggak punya kapasitas apa-apa, dia nggak ngerti soal migas," terang Effendi Saman saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (21/11/2013).

Menurut Effendi Saman, Deviardi bahkan baru tahu apa yang dia lakukan adalah tindak pidana setelah dia ditahan. "Dia pernah tanya ke Rudi, itu uang apa, tapi Rudi bilang nggak usah banyak tanya itu uang halal. Dia dekat dengan Rudi, dia percaya Rudi karena Rudi itu kan seorang profesor, pejabat publik yang juga akademisi," jelas Effendi Saman.

Effendi Saman dan Deviardi sepakat akan menjelaskan soal dokumen tersebut dalam dua hari ini.

Dalam kasus ini, KPK sudah menetapkan 3 tersangka, yakni mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.)., Komisaris PT. Kernel Oil Pte Ltd. (KOPL) Simon Gunawan Tanjaya, dan seorang pelatih golf Devi Ardi.

Rudi Rubiandini dan Deviardi alias Ardi memang tidak hanya menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap terkait kegiatan di lingkungan SKK Migas. KPK juga menjerat keduanya dengan Pasal TPPU sejak 12 November lalu.

Sedangkan, dalam kasus dugaan suapnya, RR ditetapkan sebagai tersangka bersamaan dengan Ardi dan komisaris PT. Kernel Oil Pte Ltd (KOPL) Simon Gunawan Tanjaya.

Johannes Widjanarko merupakan Kepala SKK Migas yang sebelumnya menjadi Wakil Kepala SKK Migas. Dia menggantikan posisi Rudi Rubiandini, setelah Rudi Rubiandini ditetapkan sebagai tersangka SKK Migas berdasarkan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 13 Agustus 2013 malam bersama dengan barang bukti US$ 400 ribu yang diberikan oleh Komisaris PT. Kernel Oil Private Limited (KOPL) Simon Gunawan Tanjaya melalui pelatih golf Rudi Rubiandini, Deviardi alias Ardi yang juga sudah ditangkap KPK.

R.R. diduga telah menerima uang melalui Deviardi terkait kegiatan di lingkungan SKK Migas. Rudi Rubiandini ditangkap saat menerima US$ 400 ribu dari Ardi. Uang itu disebut berasal dari Simon Gunawan Tanjaya.

Dalam surat dakwaan Simon Gunawan Tanjaya, R.R. disebut menerima SIN$ 200 ribu dan US$ 900 ribu dari Simon Gunawan Tanjaya dan atasannya, Widodo Ratanachaitong serta korporasi KOPL, melalui Ardi. Uang itu diberikan agar R.R. melakukan perbuatan-perbuatan terkait pelaksanaan lelang terbatas Minyak Mentah dan Kondensat Bagian Negara di SKK Migas.

Selain itu, saat ini KPK juga sedang menelusuri uang senilai US$ 200 ribu yang ditemukan di ruangan Sekjen ESDM Waryono Karno. Nomor seri uang dolar yang ditemukan di ruangan Waryono Karno berurutan dengan yang disita KPK dari tangan Rudi Rubiandini.

September lalu, Johannes Widjonarko menjalani pemeriksaan di KPK untuk tersangka kasus dugaan suap dengan tersangka mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.).

Belakangan, KPK menetapkan Rudi Rubiandini sebagai tersangka Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sejak ekspose pada 12 November 2013. Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.) dan pelatih golfnya, Deviardi alias Ardi diduga melanggar Pasal 3 Undang-Undang No.8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan dan Pencegahan TPPU jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (ant/kom)

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.301.148 Since: 05.03.13 | 0.1914 sec