Internasional

Rusia Dukung Indonesia Kecam Penyadapan Australia

JAKARTA-SBN.

Pertemuan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan Wakil Ketua Parlemen Rusia yang digelar di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (20/11/2013) malam, juga membahas masalah penyadapan yang dilakukan Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat Indonesia.

Wakil Ketua DPR RI dari fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso menjelaskan, hadir dalam pertemuan tersebut yakni Wakil Ketua Parleman Rusia Nikolai Levichev didampingi oleh Duta Besar Rusia di Indonesia Mikhail Galuzin.

"Semalam sampai sekitar jam 22.30 WIB, kita cerita beberapa hal, termasuk menanyakan Edward Snowden," papar politisi Partai Golkar tersebut, Priyo Budi Santoso di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (21/11/2013).

Politisi Partai Golkar tersebut, Priyo Budi Santoso menyebutkan kedatangan Wakil Ketua Parlemen Rusia ke Indonesia untuk membalas kedatangan Priyo Budi Santoso yang pada dua pekan lalu datang ke Rusia. Priyo Budi Santoso ke Rusia dalam rangka hari ulang tahun konstitusi Rusia.

Pembahasan mengenai penyadapan Australia di luar agenda utama. Beberapa hal yang menjadi agenda utama yakni mengenai sikap Rusia pada konflik di Suriah yang berbeda sikap dengan Amerika Serikat, pembahasan mengenai Laut China Selatan, dan isu-isu internasional terkini termasuk mengenai hubungan bilateral yang dijalin Indonesia dengan Rusia. "Setelah makan malam kita berbicara banyak, termasuk tentang penyadapan Australia. Ini adalah pertemuan dengan pimpinan parlemen terlama setelah bertemu dengan delegasi Amerika Serikat sekitar enam bulan lalu," beber dia.

Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso pun marah dan kecewa. Menurutnya, penyadapan Australia tidak patut dilakukan dan menyalahi tata krama diplomasi. Oleh karena itu perlu diplomasi yang lebih garang kepada Negeri Kanguru itu. "Kadang kita harus gunakan diplomasi koboi, sekali waktu perlu lah dengan diplomasi koboi," tukas dia.

Parlemen Rusia mendukung sikap Indonesia mengecam penyadapan yang dilakukan Australia. Wakil Ketua Parlemen Rusia, Nikolai Levichev mengaku pihaknya ikut merasakan hal yang sama dengan masyarakat Indonesia terkait penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat dan Australia.

"Kami sering dengar bahwa Amerika sering mengatakan harus menghormati hak asasi manusia dan harus menghormati hubungan antar negara. Tetapi tiba-tiba mereka sendiri yang melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran mereka sendiri," tandas Nikolai Levichev yang didampingi oleh Duta Besar Rusia di Indonesia Mikhail Galuzin di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (21/11/2013).

Nikolai Levichev mengatakan keadaan tersebut bertambah parah ketika penyadapan yang dilakukan kedua negara itu bukanlah ditunjukkan kepada orang yang dicurigai melakukan aksi teror. "Tapi pada pimpinan negara yang dianggap sebagai negara sahabat," ujar Nikolai Levichev.

Nikolai Levichev juga meminta Amerika Serikat untuk diam saja ketimbang menyerukan
hak asasi manusia tetapi melakkan penyadapan kepada negara sahabat. "Tentu saja kami dari pihak mitra kami di DPR, kami sangat memahami rasa kemarahan dari Indonesia," imbuhnya.

Ketua DPR RI dari fraksi Partai Demokrat, Marzuki Alie menyatakan, penyadapan Australia ini merupakan masalah serius yang menyangkut hubungan antarnegara. Karenanya, pemerintah harus berlaku tegas menyikapi hal tersebut.

"Snowden ngomong Australia menyadap pembicaraan SBY lewat telepon. Presiden SBY kalau tidak bereakasi, tidak mustahil besok bongkar hal lain yang lebih substantif bisa lebih tidak enak didengar oleh beliau (SBY)," tambah Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari fraksi PDIP, T.B. Hasanuddin.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dari fraksi PAN, Hatta Rajasa tak nyaman dengan pemberitaan media Australia ABC dan Inggris The Guardian adanya penyadapan telepon oleh intelijen Australia. "Saya belum mendapatkan informasi seperti apa. Tapi kalau ada informasi dari Menteri Senior seperti itu, kalau kami disadap ya tentu merasa tidak nyaman," terangnya. Politisi PAN ini menilai perbuatan menyadap telepon yang dilakukan Badan Intelijen Australia terhadap Presiden SBY dan pejabat lainnya merupakan tindakan tidak baik. Apalagi sampai membongkar percakapan yang menyangkut rahasia negara. "Kalau memang benar (penyadapan), saya merasa prihatin terhadap pola-pola seperti itu. Mohon maaf, bagaimanapun juga ada komunikasi yang menyangkut rahasia negara," tegas dia.

Mantan Wakil Presiden Indonesia, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla yang merupakan satu dari sejumlah pejabat yang menjadi target penyadapan Australia pada 2009 silam itu mengaku terkejut. Menurut Jusuf Kalla bila benar sejak dulu pemerintah Australia melakukan penyadapan terhadap pemimpin dan para menteri di Indonesia, berarti hal itu sudah sangat melanggar etika internasional. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus melayangkan protes. JK menilai, penyadapan tersebut merupakan bentuk tamparan terhadap pemerintah Indonesia. Bukan hanya hanya atas nama pribadi.

Seperti diberitakan, hubungan Indonesia dan Australia kembali memanas setelah media Australia dan Inggris memuat dokumen rahasia yang dibocorkan mantan pegawai kontrak Badan Keamanan Nasional AS (NSA), Edward Snowden, yang kini mendapat suaka dari Pemerintah Rusia.

Laporan tentang dugaan penyadapan itu muncul minggu ini dan mengutip dokumen Badan Keamanan Nasional Amerika (NSA) yang dibocorkan Edward Snowden. Dalam dokumen itu terungkap bahwa dinas intelijen Australia, badan mata-mata Australia bernama Defence Signals Directorate (DSD), telah menyadap telepon seluler para pejabat tinggi Indonesia, termasuk Presiden dan Ny Ani Yudhoyono pada Agustus 2009.

Dokumen rahasia itu berhasil didapatkan oleh Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan media Inggris, The Guardian. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Presiden SBY dan sembilan orang yang masuk dalam lingkaran dalamnya menjadi target penyadapan Australia. (kom)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.189.868 Since: 05.03.13 | 0.2265 sec