Hukum

Terpidana Narkoba Asal Pakistan Dieksekusi Mati

Sunday, 17 Nopember 2013 | View : 1709

JAKARTA-SBN.

Kejaksaan Agung (Kejakgung) telah melaksanakan dan melakukan proses eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkotika berkewarganegaraan asal Pakistan, Muhammad Abdul Hafeez yang berusia 44 tahun. Eksekusi mati terpidana kasus narkotika tersebut dilaksanakan oleh Tim Jaksa Eksekutor dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten, dibantu Brimob Polda Metro Jaya serta rohaniwan dan tim dokter, Minggu (17/11/2013) dinihari WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Suradita, Tangerang Selatan.

Kejaksaan melakukan eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkotika atas nama Muhammad Abdul Hafeez, 44 tahun, warga negara Pakistan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Suradita, Tangerang Selatan, Minggu (17/11/2013), pukul 00.17 WIB. “Pada Minggu tanggal 17 November 2013 sekitar pukul 00.17 WIB, Kejaksaan telah melaksanakan eksekusi mati terpidana kasus narkotika atas nama Muhammad Abdul Hafeez (44), warga negara Pakistan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Suradita, Tangerang Selatan dan langsung dimakamkan di TPU tersebut," beber Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Setia Untung Arimuladi di Jakarta melalui keterangan persnya kepada wartawan, Minggu (17/11/2013).

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Setia Untung Arimuladi menyebutkan proses eksekusi mati tersebut dilaksanakan oleh Tim Jaksa Eksekutor dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten dibantu Brimob Polda Metro Jaya serta rohaniawan dan dokter.

Pelaksanaan eksekusi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Jenazah terpidana mati kasus narkotika warga negara Pakistan bernama Muhammad Abdul Hafeez itu telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Suradita, Tangerang Selatan.

Terpidana Muhammad Abdul Hafeez dijatuhi hukuman mati dalam perkara kasus narkotika setelah yang bersangkutan ditangkap di Bandara Soekarno Hatta pada 26 Juni 2001. Dirinya kedapatan membawa heroin dengan berat bruto 1.050 gram setelah sebelumnya terbang dari Kota Peshawar, Pakistan, yang disimpan dalam kemasan makanan ringan. "Ia ditangkap pada tanggal 26 Juni 2001 di Bandara Soekarno Hatta dari kota Peshawar, Pakistan membawa Heroin dengan berat bruto 1.050 (seribu lima puluh) gram yang disimpan dalam kemasan makanan ringan," ujar Setia Untung Arimuladi.

Atas perbuatannya tersebut, dirinya disangkakan melanggar Pasal 82 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika. “Dia melanggar Pasal 82 ayat (1) huruf a Undang-undang RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika,” papar Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Setia Untung Arimuladi di Jakarta, Minggu (17/11/2013).

Dikatakan, sedangkan, pelaksanaan eksekusi terhadap terpidana mati Muhammad Abdul Hafeez dilakukan berdasarkan sebagai pelaksanaan Putusan Kasasi Mahkamah Agung (MA) Nomor: 846K/PID/2002 Tanggal 7 Agustus 2002 jo Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor: 11/PID/2002/PT.BDG Tanggal 13 Februari 2002 jo Putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor: 738/PID.B/2001/PN.TNG Tanggal 28 November 2001.

Kapuspenkum Kejagung Setia Untung Arimuladi menambahkan pelaksanaan eksekusi terhadap terpidana mati tersebut sebagai pelaksanaan Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomor: 846K/PID/2002 Tanggal 7 Agustus 2002 jo Putusan PengadilanTinggi Bandung Nomor: 11/PID/2002/PT.BDG Tanggal 13 Februari 2002 jo Putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor: 738/PID.B/2001/PN.TNG Tanggal 28 November 2001. "Terpidana juga telah mendapatkan dan menggunakan haknya untuk melakukan grasi, Peninjauan Kembali Pertama (PK) dan Peninjauan Kembali Kedua dan telah menerima serta terdapat putusan penolakan tersebut. Keputusan penolakan permohonan grasi Nomor: 15/G Tahun 2004 tertanggal 9 Juli 2004, Putusan MA Nomor: 68.PK/PID/2005 Tanggal 28 Juli 2005 yang menolak permohonan PK," katanya.

Muhammad Abdul Hafeez juga telah mendapatkan haknya untuk melakukan grasi dan dua kali peninjauan kembali. Namun, semua yang diajukannya ditolak. Jadi, sebelum dilakukan proses eksekusi mati, Kejagung telah memberikan kesempatan kepada terpidana untuk mengajukan Peninjauan Kembali (PK) hingga dua kali termasuk mengajukan grasi ke presiden, hingga akhirnya ditolak.

Dijelaskannya, proses pelaksanaan eksekusi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan jenazah terpidana mati, telah dimakamkan menurut syariat agama Islam.

Eksekusi terhadap Muhammad ini adalah merupakan eksekusi hukuman mati kelima yang dilakukan Kejagung sepanjang tahun 2013. Sebelumnya Kejagung telah mengeksekusi mati atas nama terpidana Jurit dan Ibrahim yang merupakan terpidana mati kasus pembunuhan berencana yang dieksekusi di Nusakambangan, beberapa bulan lalu. Kemudian, Suryadi Swabuana alias Edi Kumis yang divonis mati dalam perkara pembunuhan dan pencurian di Palembang, serta Adami Wilson warga negara Nigeria yang divonis mati dalam perkara narkotika pada 15 Maret 2013. “Ini adalah hukuman mati kelima yang dilakukan Kejaksaan Agung sepanjang tahun 2013, setelah kita mengeksekusi atas terpidana mati kasus pembunuhan berencana atas nama terpidana mati Ibrahim, Jurit, dan Suryadi yang dieksekusi di Nusakambangan beberapa bulan lalu," papar Kapuspenkum Kejagung Setia Untung Arimuladi.

Terkait masih adanya terpidana mati kasus narkotika yang belum dilaksanakan eksekusi, Setia Untung Arimuladi menerangkan bahwa hal tersebut disebabkan ada beberapa hal penyebab. Antara lain, masih adanya terpidana yang mengajukan upaya hukum kembali seperti banding, kasasi, hingga Peninjauan Kembali (PK). “Terkait masih adanya terpidana mati kasus narkotika yang belum dilaksanakan eksekusi disebabkan beberapa hal diantaranya masih adanya terpidana yang mengajukan upaya hukum seperti banding, kasasi, hingga PK,” jelasnya lagi. (ant)

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.607.592 Since: 05.03.13 | 0.1318 sec