Hukum

Kuasa Hukum SGT Bantah Telepon Dan Pertemuan Merupakan Intervensi Tender

Thursday, 14 Nopember 2013 | View : 1426

JAKARTA-SBN.

Kuasa hukum Simon Gunawan Tanjaya, Yanuar P. Wasesa menyatakan telepon dan pertemuan bukan sebagai bentuk intervensi maupun upaya melobi. Menurut dia, komunikasi dari para peserta tender merupakan hal yang biasa dilakukan. “Saya yakin telepon dan pertemuan itu bukan masalah pemenangan tender. Pemenangnya kan uang memberikan penawaran tertinggi di SKK Migas, jadi bukan hal yang luar biasa,” tukas Yanuar P. Wisesa usai persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (14/11/2013).

Sebelumnya, kuasa hukum Simon Gunawan Tanjaya, Yanuar P. Wasesa, menyatakan kliennya hanya kurir Devi Ardi. “Klien kami tidak menyuap dan hanya kurir," jelas Kuasa Hukum Simon Gunawan Tanjaya, Yanuar P. Wasesa kepada wartawan usai sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (7/11/2013). Termasuk Widodo Ratanachaitong pun terkesan dimanfaatkan. Menurut Yanuar P. Wisesa, dari BAP itu, digambarkan Rudi Rubiandini bertemu dengan Febri Setiadi saat bermain golf dengan Devi Ardi di lapangan Golf Pondok Indah, 16 Juli 2013. Meski tidak mengajukan eksepsi, kuasa hukum Simon Gunawan Tanjaya lainnya, Yanuar P. Wasesa menegaskan kliennya tidak pernah menyuap Rudi Rubiandini. “Hal ini bisa dilihat dari BAP saudara Devi Ardi. Disitu secara jelas tergambar jika klien kami tidak menyuap dan hanya kurir. Rudi bertemu dengan Febri Setiadi saat bermain golf dengan Devi Ardi di lapangan Golf Pondok Indah tanggal 16 Juli 2013,” ucap Yanuar P. Wisesa usai menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (7/11/2013).

Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (RR)., pada pertemuan disitu menyuruh Devi Ardi membuat janjian dengan Febri Setiadi untuk mengambil uang di Singapura yang selanjutnya akan diterima R.R.

Berdasarkan BAP tersebut diketahui, sekitar Juli 2013, Devi Ardi kemudian bertemu dengan Febri Setiadi, orang kepercayaan bos perusahaan tambang terkemuka Indonesia,  di Mandarin Orchard Singapura. Bertempat di Mandarin Orchard Singapura, Devi Ardi menerima uang dari Febri Setiadi sebesar US$ 700 ribu. Uang itu akan diberikan kepada R.R.

Setelah menerima uang, Devi Ardi lantas kembali pergi ke Fullerton Hotel, Singapura setelah menerima uang untuk bertemu R.R. yang sedang mengadakan makan malam bersama Widodo Ratanachaitong.

Menurut Yanuar P. Wisesa, R.R., setelah itu memanggil Devi Ardi masuk ke kamarnya.‎ Devi Ardi pun melaporkan soal duit yang diberikan oleh Febri Setiadi tersebut kepadanya.  

Saat itu, sambung Yanuar P. Wisesa, R.R. mengatakan jika dirinya bakal menerima uang lagi sebesar US$ 300 ribu pada minggu depan di Jakarta.

Melihat jumlah duit yang banyak, Devi Ardi mengaku kebingungan untuk membawa masuk ke Indonesia. Tetapi, karena Devi Ardi tidak dapat membawa uang dalam bentuk tunai yang nilainya besar tersebut ke Indonesia, dia pun lalu meminta bantuan kepada Direktur Kernel Oil Pte Ltd, Widodo Ratanachaitong untuk membantunya mengatasi masalah tersebut. Dana sebesar US$ 700 ribu itu dibantu ditarik dari rekening Kernel Oil Pte. Ltd. dua kali. Yang pertama US$ 300 ribu, dan yang kedua US$ 400 ribu, ditarik Simon Gunawan Tanjaya setelah mendapat notifikasi transfer.

Dengan demikian, menurut Yanuar P. Wisesa, Simon Gunawan Tanjaya tidak mengetahui sama sekali, apalagi mengatur proses tender di SKK Migas, sebagaimana dakwaan Jaksa.

Dengan niat membantu, Widodo Ratanachaitong kemudian menghubungi Simon Gunawan Tanjaya untuk menyiapkan uang tersebut dari rekening Kernel Oil Pte. Ltd. Namun, karena rekening Kernel Oil Pte. Ltd. tidak memiliki saldo sejumlah tersebut, maka uang akan dikirim dari Singapura ke rekening Kernel Oil Pte. Ltd. di Jakarta.

“Saya tidak tahu teknisnya untuk membawa uang sebesar itu ke Indonesia. Saya minta tolong Widodo untuk mebawakan uang itu ke Indonesia,” ujar Yanuar P. Wisesa demikian mengutip BAP Devi Ardi.

Menurut Yanuar P. Wisesa, Widodo Ratanachaitong tidak tahu dengan pasti kenapa dititipi uang dalam jumlah besar oleh Devi Ardi.

Kuasa hukum Yanuar P. Wisesa juga mengaku jika tidak mengetahui secara pasti peruntukkan uang yang dititipkan Devi Ardi untuk Rudi Rubiandini tersebut. Widodo Ratanachaitong sendiri mengaku jika tidak mengetahui secara pasti peruntukkan uang yang dititipkan Devi Ardi kepadanya. “Jadi intinya, klien saya itu tidak pernah menyuap," tekan Yanuar P. Wisesa.

Yanuar P. Wisesa menyatakan Rudi Rubiandini sendiri mengaku memang pernah memerintahkan Devi Ardi untuk mengambil uang dari Febri Setiadi sebagai ungkapan terima kasih. Lebih lanjut dikatakan Yanuar P. Wisesa, hal itu diperkuat lagi dalam BAP tersangka R.R. Dimana menyebutkan jika R.R pernah memerintahkan Devi Ardi untuk mengambil uang dari Febri Setiadi sebagai ungkapan terima kasih. “Namun terkait apa pastinya saya tidak tahu, namun yang bersangkutan (Febri) pernah bercerita bahwa salah seorang kolega yang telah mengerjakan proyek GAS PAU sudah selesai sekarang dan beliau ingin mengucapkan terima kasih," beber Yanuar P. Wisesa.

Sebelumnya, Simon Gunawan Tanjaya didakwa bersama pihak lain menyuap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, R.R. dengan perantara Devi Ardi, sebesar US$ 900 ribu demi memuluskan tender kondensat di Senipah periode Juli-Agustus 2013. Dalam dakwaan, Simon Gunawan Tanjaya disebut menyuap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, R.R. hingga US$ 900 ribu untuk tender tersebut.

Dalam dakwaan yang dipaparkan ketua tim Jaksa KPK, M. Rum, penyuapan itu yang dilakukan agar Rudi Rubiandini menyetujui Fossus Energy Ltd. sebagai pemenang lelang terbatas kondensat Senipah periode Juli 2013. Termasuk keduanya juga meminta Fossus Energy Ltd. sebagai pemenang lelang terbatas minyak mentah bagian negara dengan kondensat Senipah periode Agustus 2013.

Jaksa mendakwa tersangka Simon Gunawan Tanjaya dan dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Diketahui dalam dakwaan Simon Gunawan Tanjaya, Widodo Ratanachaitong disebut bersama-sama dengan Komisaris PT. Kernel Oil Plt Ltd (KOPL), Simon G Tanjaya dan korporasi KOPL didakwa menyuap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) nonaktif Rudi Rubiandini dengan memberikan uang sebesar SIN$ 200.000 dan US$ 900.000.

Uang tersebut diberikan Simon Gunawan Tanjaya bersama-sama dengan Widodo Ratanachaitong dan korporasi KOPL untuk R.R. melalui perantara pelatih golf pribadinya, Deviardi alias Ardi agar melakukan sejumlah perbuatan-perbuatan terkait pelaksanaan lelang terbatas Minyak Mentah dan Kondensat Bagian Negara di SKK Migas. Uang tersebut diduga untuk mengamankan proyek tender di SKK Migas. Berkas R.R. dan Ardi sendiri masih tahap perampungan di KPK. “Dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya," ujar Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum KPK, Mochamad Rum saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (7/11/2013). Demikian yang terangkum dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk terdakwa kasus dugaan suap dalam kegiatan hulu minyak dan gas di lingkungan SKK Migas, Simon Gunawan Tanjaya. Dakwaan SGT dibacakan secara bergantian oleh Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (7/11/2013).

Uang tersebut diterima R.R. sebagai "pelicin" agar menggunakan kewenangannya untuk melakukan sejumlah perbuatan terkait pelaksanaan tender kondensat (penyulingan minyak mentah) di Senipah, Kalimantan Timur. “Pemberian uang tersebut agar Rudi Rubiandini menggunakan jabatannya untuk melakukan perbuatan terkait pelaksanaan lelang terbatas Minyak Mentah dan Kondensat Bagian Negara di SKK Migas," beber Jaksa Surya Nelly. “Perbuatan (Rudi) bertentangan dengan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Butir 4 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, serta sumpah jabatan Kepala SKK Migas,” tutur Jaksa Mochammad Rum di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (7/11/2013).

Jaksa pada KPK menyebut, sejumlah perbuatan-perbuatan yang diinginkan PT. KOPL dari R.R. itu antara lain, adalah pertama, agar menyetujui Fossus Energy Limited sebagai pemenang lelang terbatas Kondensat Senipah Bagian Negara pada 7 Juni 2013 untuk periode bulan berikutnya, Juli 2013.

Kedua, kemudian menyetujui kargo pengganti minyak mentah Grissik Mix Bagian Negara untuk Fossus Energy Ltd periode Februari-Juli 2013. Selanjutnya, ketiga, menggabungkan beberapa tender dan lelang terbatas Minyak Mentah Minas/SLC Bagian Negara dan Kondensat Senipah Bagian Negara untuk periode Agustus 2013.

Keempat, menyetujui Fossus Energy Ltd sebagai pemenang pada lelang terbatas Minyak Mentah Minas/SLC Bagian Negara sengan Kondensat Senipah Bagian Negara pada 4 Juli 2013 untuk periode Agustus 2013.

Kelima, menggabungkan tender kondensat Senipah dan Minyak Mentah Duri untuk periode September-Oktober 2013. Dan terakhir menunda pelaksanaan tender Kondensat Senipah periode September-Oktober 2013.

“Padahal, perbuatan itu diketahui supaya Rudi Rubiandini berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya atau melakukan tugas yang bertentangan dengan kewajibannya," pungkas Jaksa Surya Nelli. (tem/kom)

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.182.813 Since: 05.03.13 | 0.2834 sec