Hukum

Petinggi Kernel Oil Minta Menang Tender

Thursday, 14 Nopember 2013 | View : 1017

JAKARTA-SBN.

Saksi Kepala Divisi Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Popi Ahmad Nafis mengakui Komisaris Utama PT. Kernel Oil Ptd Ltd (KOPL) Widodo Ratanachaitong pernah memintanya untuk dimenangkan dalam tender di SKK Migas. Permintaan tersebut dilayangkan saat Widodo Ratanachaitong menghubungi Popi Ahmad Nafis melalui via telepon. Hal itu diungkapkan Popi Ahmad Nafis saat bersaksi dalam persidangan terdakwa kasus dugaan suap SKK Migas, Simon Gunawan Tanjaya yang juga merupakan Komisaris Kernel Oil Indonesia di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (14/11/2013). “Dia (Widodo) telepon ke saya, pak, bagaimana caranya menangin dong. Saya bilang tergantung hasil tendernya,” kata Popi Ahmad Nafis ketika bersaksi dalam sidang.

Meski demikian, Popi Ahmad Nafis mengaku lupa tender apa yang diminta dimenangkan tersebut. Namun, Popi Ahmad Nafis mengaku sempat melayangkan protes atas permintaan tersebut kepada Simon Gunawan Tanjaya selaku bawahan Widodo Ratanachaitong di Kernel Oil Indonesia dan Fossus Energy. “Dia telepon untuk proyek Oktober 2012. Namun, saya protes ke Simon kenapa bos kamu minta menang terus,” beber Popi Ahmad Nafis.

Sebelumnya, Popi Ahmad Nafis berulangkali mengatakan tidak ingat perihal ada atau tidaknya telepon dari Widodo Ratanachaitong tersebut. Bahkan, anggota Majelis Hakim I Made Hendra sempat mengingatkan bahwa saksi sudah disumpah sehingga terkait pidana jika memberikan keterangan palsu.

Perihal telepon oleh Widodo Ratanachaitong tersebut terungkap dari keterangan  yang disampaikan saksi pegawai Kernel Oil Pte Ltd, Maulana Yahya.

Maulana Yahya membenarkan bahwa dirinya mendengar dari terdakwa Simon Gunawan Tanjaya jika Widodo Ratanachaitong menghubungi Popi Ahmad Nafis dan minta dimenangkan.

Maulana Yahya juga mengaku Widodo Ratanachaitong pernah mengutusnya untuk bertemu dengan mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.). Pertemuan itu berlangsung di restoran Sunda di SCBD pada Agustus 2012 silam.

Maulana Yahya mengaku mendapat perintah dari Widodo Ratanachaitong untuk bertemu Rudi Rubiandini bersama Simon Gunawan Tanjaya.

Menurut Maulana Yahya, saat itu Rudi Rubiandini berbicara soal blok minyak yang akan dijual. “Bertemu di Agustus 2012 di restoran Sunda di SCBD. Ketemu Pak Rudi, beliau menyampaikan lapangan minyak, blok yang akan dijual,” ucap Maulana Yahya. Namun, dia mengaku, pembicaraan blok minyak itu tidak berkaitan langsung dengan Rudi Rubiandini. “Tidak langsung dengan pak Rudi tapi ada satu temannya pak Rudi, saya tidak tahu namanya,” tuturnya.

Dugaan pemberian suap itu pun berawal dari pertemuan Komisaris Utama PT. Kernel Oil Ptd Ltd (KOPL) Widodo Ratanachaitong dengan mantan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini. Rudi Rubiandini disebut telah menerima uang US$ 900 ribu dan SIN$ 200 ribu dari Direktur PT. KOPL Singapura, Widodo Ratanachaithong, melalui Deviardi. Uang tersebut diterima Rudi sebagai "pelicin" agar menggunakan kewenangannya untuk melakukan sejumlah perbuatan terkait pelaksanaan tender kondensat (penyulingan minyak mentah) di Senipah, Kalimantan Timur.

Sejumlah perbuatan yang diinginkan Widodo Ratanachaitong dari Rudi Rubiandini adalah menyetujui Fossus Energy Limited sebagai pemenang lelang terbatas kondensat Senipah periode Juli 2013, menyetujui kargo pengganti minyak mentah Grissix Mix untuk Fossus Energy periode Februari-Juli 2013, menggabungkan beberapa tender terbatas minyak mentah, dan menunda pelaksanaan tender kondensat Senipah periode September-Oktober 2013.

Dalam dakwaan itu, Widodo Ratanachaitong terlihat lebih aktif. Proses suap kepada Rudi Rubiandini diawali sekitar bulan April 2013 di Kafe Pandor di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu, Rudi bertemu dan berkenalan dengan Komisaris PT. KOPL Singapura, Widodo Ratanachaitong. Widodo Ratanachaitong memperkenalkan dirinya sebagai salah satu trader minyak yang akan mengikuti tender di SKK Migas.

Untuk memudahkan komunikasi, Rudi Rubiandini memperkenalkan Widodo Ratanachaitong dengan Deviardi. Selanjutnya, Widodo Ratanachaitong meminta Deviardi untuk bertemu di Singapura. Sesampainya di Singapura, Widodo Ratanachaitong memberikan uang SIN$ 200 ribu untuk Rudi Rubiandini melalui Deviardi guna proses pemenangan tender.

Setelah pertemuan itu, Widodo Ratanachaitong menugaskan Direktur PT. KOPL Indonesia, Simon Gunawan Tanjaya, selaku orang kepercayaannya di Indonesia, untuk menjadi "kepanjangan tangannya" dalam mengurus proses tender di SKK Migas. Secara berurut-turut, PT. KOPL memberikan US$ 200 ribu pada 26 Juni 2013, US$ 300 ribu pada 26 Juli 2013, dan puncaknya US$ 400 ribu.

Uang US$ 400 ribu dari Simon Gunawan Tanjaya dibawa oleh Deviardi ke rumah Rudi Rubiandini di Jalan Brawijaya VIII No.30, Jakarta Selatan, dengan mengendarai motor BMW bernopol B 3946 FT. Pada saat Deviardi keluar dari rumah, petugas KPK menangkap Deviardi dan Rudi Rubiandini, yang dilanjutkan dengan penangkapan Simon Gunawan Tanjaya.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R.). sebagai tersangka pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada Selasa (13/8/2013) silam. Dari tangannya, KPK menyita sejumlah duit dolar dan uang US$ 200 ribu dari gedung Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. R.R. diduga tengah melakukan transaksi suap bersama-sama pelatih golf-nya Deviardi alias Ardi sebesar US$ 400 ribu dari Komisaris PT. Kernel Oil Pte Ltd (KOPL), Simon Gunawan Tanjaya untuk pengurusan kegiatan di SKK Migas.

Selain Rudi Rubiandini, petinggi Kernel Oil Indonesia Simon Gunawan Tanjaya dan Deviardi alias Ardi, yang diketahui sebagai pelatih golf pribadi Rudi Rubiandini, ditetapkan sebagai tersangka. (kom/id/ant)

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.177.807 Since: 05.03.13 | 0.2478 sec