Hukum

Ketua Program Dokter Spesialis Unsri Ditangkap

PALEMBANG-SBN.

Setelah sempat dinyatakan buron dan namanya masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Kejaksaan Negeri Palembang, guru besar dokter ahli kebidanan dan mantan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri) Palembang, Prof. dr. M. Hatta Anshori SpOG, diamankan Kejaksaan Negeri Palembang. Hatta ditangkap di tempat persembunyiannya di Desa Lungge, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar pukul 20.45 WIB, hari Sabtu (9/11/2013). Satuan Tugas Kejaksaan Agung bersama Kejaksaan Negeri (Kejari) Temanggung dan Kejari Palembang, berhasil menangkap Ketua Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Prof. dr. M. Hatta Anshori SpOG (K) yang merupakan Ketua Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sumatera Selatan, terkait penyelewengan dana Penerimaan Bukan Pajak Unsri. Penangkapan terpidana terjadi di Desa Lungge RT02/RW07 Temanggung, Jawa Tengah, pada Sabtu (9/11/2013), pukul 20.45 WIB.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Untung Setia Arimuladi mengungkapkan, Satgas Kejagung, Kejari Temanggung, dan Kejari Palembang berhasil menangkap DPO asal Kejari Palembang, Prof. dr. M. Hatta Anshori, di Desa Lungge, RT02/RW07, Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (9/11/2013) malam, pukul 20.45 WIB. “Yang bersangkutan berhasil diamankan setelah selama ini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejari Palembang," ungkap Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Untung Setia Arimuladi di Jakarta, Minggu (10/11/2013) dini hari.

Saat ini, sambung Untung Setia Arimuladi, terpidana masih di Kejari Sleman, dan Hatta rencananya pada Minggu pagi, akan diterbangkan dan segera dibawa ke Palembang untuk menghabiskan masa hukuman di sana. "Semalam Hatta diamankan di Kejari Sleman dan pagi ini akan diterbangkan ke Palembang," ujar Untung Setia Arimuladi. "Minggu pagi ini rencana akan diterbangkan ke Palembang," tambah Untung Setia Arimuladi.

“Saat ditangkap, mantan dosen FK Unsri ini sedang berada di rumah kontrakannya, dengan dibantu dua orang yang bertugas mencuci dan memasak. Di tempat persembunyian itu, pelaku tidak ditemani oleh pihak keluarganya," beber Kejari Palembang, Nanang Sigit, di Palembang, Senin (11/11/2013).

Tiga bulan menjadi buronan Kejaksaan Negeri (Kejari) Palembang, Profesor dr. M. Hatta Anshori ternyata menyewa rumah sederhana di Desa Lungge Temanggung Jawa Tengah. Di sana, pria yang sudah lanjut usia ini tinggal sebatang kara.

Dikatakan Kepala Kejari Palembang, Nanang Sigit, Hatta sempat dirawat di rumah sakit di Pulau Jawa beberapa saat usai keputusan Mahkamah Agung keluar. Karena masih dalam proses perawatan, pihak Kejari Palembang belum bisa menahan Hatta di Lapas Merahmata Palembang. “Namun kemudian dia menghilang dari rumah sakit. Keberadaannya mulai sulit ditemukan. Ia juga tidak menampakkan diri meski sudah diberi imbauan melalui pihak keluarga,” papar Nanang Sigit, Senin (11/11/2013).

Tiga bulan berlalu, keberadaan Hatta akhirnya diketahui. Dengan koordinasi bersama Kejari Temenggung, Hatta berhasil ditangkap di rumah kontrakannya. Tanpa ampun, Hatta langsung dieksekusi dan ditahan di Lapas Merah Mata Palembang.

Prof. dr. M. Hatta Anshori SpOG ditangkap dan dieksekusi oleh Kejari Palembang karena berstatus terpidana bersalah terkait kasus korupsi Dana Penerimaan Negera Bukan Pajak (PNBP) yang merugikan negara Rp 2.547.160.850.

Korupsi itu dilakukan Prof. dr. M. Hatta Anshori SpOG pada saat itu menjabat sebagai Ketua Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sumatera Selatan. Uang tersebut digunakan Hatta untuk kepentingan pribadi. Perbuatan tindakan korupsi tersebut dilakukan bersama dengan rekannya, mantan Dekan FK Unsri, Prof. dr. H. Zarkasih Anwar SpA. pada periode 2006-2008  yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2.547.160.850, dan sudah menjalani hukuman sejak 10 Januari 2013.

Kapuspenkum, Untung Setia Arimuladi menuturkan Hatta dan Zarkasih melakukan korupsi selama periode 2006-2008 yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,5 miliar lebih. Untung Setia Arimuladi menjelaskan,  Ketua PPDS FK Unsri ini ditangkap setelah Mahkamah Agung (MA) memutusnya bersalah, yakni melakukan penyelewengan dana Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) PPDS FK Unsri dengan rekannya bernama Prof. dr. H. Zarkasih Anwar S.pA, sehingga harus menjalani pidana penjara. “Berdasarkan putusan M.A. Nomor 524 K/Pid.Sus/2011 tanggal 15 Juli 2011 yang menyatakan bahwa terpidana Prof. dr. M. Hatta Anshori, SpOG (K) telah melakukan penyelewengan dana Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) PPDS, korupsi periode 2006 sampai dengan 2008  yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2.547.160.850 (Rp 2,5 miliar), di Fakultas Kedokteran Unsri dengan rekannya Prof. dr. H. Zarkasih Anwar S.pA,” terang Kapuspenkum, Untung Setia Arimuladi, Jakarta, Minggu, (10/11/2013).

Menurutnya, dalam putusan MA tersebut, majelis Hakim Agung menguatkan putusan PN Palembang, tanggal 6 September 2010 Nomor 72/Pid.B/2010/PN.PLG yang dimintakan banding. Sedangkan untuk terpidana Prof. dr. H. Zarkasih Anwar, S.pA telah dieksekusi pada tanggal 10 Januari 2013 yang lalu. “Bahwa  putusan MA tersebut menguatkan putusan PN Palembang tanggal 6 September 2010 Nomor 72/Pid.B/2010/PN.PLG yang dimintakan banding. Sedangkan untuk terpidana Prof. dr. H.  Zarkasih Anwar S.pA telah di eksekusi pada tanggal 10 Januari 2013,” lanjut Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Untung Setia Arimuladi.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Untung Setia Arimuladi menjelaskan berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 524 K/Pid.Sus/2011 tanggal 15 Juli 2011 yang menyatakan bahwa terpidana Prof. dr. M. Hatta Anshori, SpOG (K) telah melakukan penyelewengan dana Penerimaan Bukan Pajak (PNBP) program pendidikan doktor spesialis di fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri). Dalam putusan Pengadilan Negeri maupun Mahkamah Agung, keduanya terbukti melakukan korupsi. Uang yang seharusnya disetorkan ke kas negara ternyata masuk rekening lain. Hatta, dalam putusan MA yang dikeluarkan 15 Juli 2011 Nomor 524 K/Pid.Sus/2011, telah terbukti melakukan penyelewengan uang negara sehingga diancam hukuman dua tahun penjara dan membayar uang denda Rp 100 juta.

Atas perbuatan tersebut, MA menjatuhkan pidana penjara selama 2 tahun kepada Hatta Anshori. Selain itu, mewajibkan Hatta membayar denda Rp 100 juta, subsider 3 bulan kurungan. “Putusan MA pidana penjara selama dua tahun penjara, denda Rp 100 juta subsider tiga bulan," terang Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Untung Setia Arimuladi.

Terpidana Hatta diputus terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Untung Setia Arimuladi menambahkan M.A. menyatakan terpidana Hatta diputus terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999.

Berdasarkan dari fakta persidangan, dijelaskan, imbuh Untung Setia Arimuladi, Hatta terbukti melakukan korupsi pada dana PNBP dalam PPDS FK Unsri tahun 2006-2008. Berdasarkan fakta persidangan, seharusnya dana PNBP PPDS FK Unsri tersebut disetorkan ke kas negara. Namun, ternyata dana tersebut disimpan dalam rekening lain dan dinilai telah merugikan negara senilai Rp 2,5 miliar. (ant/tri)

See Also

Bareskrim Polri Tetap Usut Korupsi PD Sarana Jaya
KPK Perpanjang Penahanan Kadis PUPR Mojokerto
Bareskrim Polri Tahan 7 Tersangka Terkait Kasus Praktik Bank Gelap Hanson International
KPK Perpanjang Penahanan Dirut PT. CMI Teknologi Rahardjo Pratjihno
KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.996.313 Since: 05.03.13 | 0.1713 sec